Hetifah Dorong Pemerintah dan Dewan Berikan Solusi Untuk Pertumbuhan Ekonomi Daerah

14-07-2016 / BADAN ANGGARAN

Anggota Banggar DPR RI Hetifah Sjaifudian menyampaikan bahwa harga komoditas global sangat berpengaruh bagi perekonomian di beberapa daerah khususnya Kalimantan. Dia mendorong pemerintah dan dewan lainnya agar mencari solusi konkret, supaya pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah tidak bergantung pada komoditas yang sudah menjadi pokok utama, namun hendaknya juga mencari ide segar agar muncul komoditas baru strategis.

 

"Tadi sudah dipaparkan Pemerintah bahwa kinerja pertumbuhan ekonomi di Kalimantan pada 2017, hanya 1,1 persen. Ini termasuk Kaltim-Kaltara, yang juga akan menurun. Kita perlu memikirkan agar pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut jangan bergantung pada komoditas primer semata," kata Hetifah di ruang rapat Banggar Nusantara II, Gedung DPR, Jakarta, Rabu (13/7/2016).

 

Dalam jangka panjang, tantangan utama bagi daerah khususnya Kalimantan adalah untuk mendiversifikasikan kegiatan dan sumber-sumber ekonomi guna mengurangi ketergantungan pada sejumlah kecil komoditas. 

 

"Di Kaltim dan Kaltara masih banyak menyimpan potensi untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi, seperti pariwisata, perikanan, dan ekonomi kreatif. Kita jangan terus bergantung pada produk-produk primer semata, karena jika terjadi ketidakpastian ekonomi ini menjadi resiko dan masalah," sambung Hetifah.

 

Sebelumnya dalam rapat, pemerintah menyampaikan hasil beberapa usulan DPR mengenai asumsi ekonomi makro seperti harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang dipatok sebesar 45-55 USD/barel, lifting minyak bumi sebesar 760-800 ribu barel/hari, dan lifting gas bumi sebesar 1,150-1,500 ribu barel setara minyak/hari. Adapun asumsi ekonomi makro yang lain masih menunggu pembahasan di Komisi XI DPR RI.

 

Pemerintah dengan DPR mulai melakukan pembahasan RAPBN Tahun 2017. Diperkirakan, ekonomi Indonesia akan dipengaruhi situasi global seperti, moderasi pertumbuhan ekonomi Tiongkok, melemahnya aktivitas ekonomi Tiongkok yang diperkirakan masih terjadi, lemahnya harga-harga komoditas, dan ketidakpastian ekonomi global, seperti membaiknya ekonomi Amerika Serikat yang berdampak pada normalisasi suku bunga. Demikian disampaikan Suahasil Nazara, mewakili Kementerian Keuangan RI.

 

Dalam rapat tersebut juga dipaparkan mengenai diversifikasi sumber ekonomi di berbagai wilayah di Indonesia. Menurut Suahasil, secara umum pertumbuhan ekonomi di seluruh wilayah menunjukkan kecenderungan membaik, terutama di Jawa karena didorong oleh industri dan konsumsi yang tinggi. Namun ia juga menyampaikan kemungkinan pertumbuhan ekonomi di wilayah Kalimantan akan mengalami tekanan karena rendahnya harga komoditi. (eko) foto:andri/od.


  • SHARES
BERITA TERKAIT
Banggar Sambut Baik Usulan Gubernur Bali
29-03-2018 / BADAN ANGGARAN
Badan Anggaran (Banggar) DPR RI menyambut baik usulan Gubernur Bali I Made Mangku Pastika agar dana perimbangan keuangan daerah diserahkan...
Ketimpangan Pembangunan Terjadi di Bali
27-03-2018 / BADAN ANGGARAN
Ketimpangan pembangunan terjadi di Provinsi Bali. Wilayah Bali selatan paling banyak tersentuh pembangunan. Sementara pembangunan tidak menyentuh wilayah Bali utara,...
Kawasan Mandalika Sedang Berbenah
22-03-2018 / BADAN ANGGARAN
Kawasan pariwisata Mandalika di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat kini sedang berbenah. Kawasan wisata ini merupakan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)...
DPR Nilai KEK Mandalika Jaga Kearifan Lokal
22-03-2018 / BADAN ANGGARAN
Pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Mandalika, Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat, dinilai tetap menjaga kearifan lokal sebagai keunggulan...