Persatuan Indonesia Tak Boleh Terpecah Karena Isu Sara

03-01-2017 / KOMISI VI

Anggota Komisi VI Idris Laena mengingatkan pentingnya menjaga persatuan Indonesia ditengah maraknya isu sara yang terjadi akhir-akhir ini. Menurutnya, seyogyanya hal itu perlu diwaspadai. Karena kalau melihat sejarah bangsa yang pernah mengalami konflik pada akhirnya tidak pernah ada yang bisa survive. Hal itu diungkapkan dalam rilis yang diterima Parlementaria pada Senin, (02/01/2017).

 

“Dulu kita kenal istilah devide it empera. Dan benar saja bahwa yang terjadi seolah-olah ada agenda terselubung untuk memecah belah kekuatan bangsa dengan menggunakan isu sara,” ujar Idris yang saat itu berada di London dan berbincang dengan masyarakat sekitar.

 

Ia pun juga menyoroti pandangan masyarakat London yang melihat kondisi perekonomian Indonesia yang dianggap sudah terlalu liberal dan kebebasan berpendapat yang sudah terlalu longgar. “Bahkan menurut mereka, di Eropa sendiri masih ada rambu yang membatasi orang berpendapat. Sehingga persoalan hukum dan kebijakan politik, tidak bisa diintervensi oleh siapapun atas nama publik. Apalagi sekedar opini yang mengatas namakan rakyat,” ujarnya.

 

Dalam bayangan masyarakat London, jika Pemerintah Indonesia terus melakukan pembiaran maka tidak menutup kemungkinan akan dimanfaatkan oleh sekelompok orang untuk memuluskan agenda terselubung yang indikasinya bisa dirasakan dengan politik adu domba.

 

Ia pun mencontohkan kondisi negara di Timur Tengah yang cukup banyak diintervensi oleh negara luar sehingga menimbulkan ketidakstabilan dalam berbagai aspek.  “Menurut saya, pandangan tersebut memang perlu diwaspadai. Karena kalau melihat sejarah bangsa-bangsa yang pernah mengalami konflik pada akhirnya tidak pernah ada yang bisa survive kembali,” jelas Idris.

 

“Jika kemudian ditunggangi oleh negara besar yang berkepentingan maka sudah pasti menjadi bangsa yang gagal seperti yang terjadi di Afganistan, Irak, Yaman dan sekarang yang menjadi perhatian adalah perang antar saudara yang ditunggangi oleh negara lain yaitu di Syria,” sambungnya.

 

Politisi Golkar ini menjelaskan, Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia dan memiliki sumber daya alam melimpah serta kondisi geografis yang strategis menjadi sasaran dari intervensi negara luar. Oleh karenanya persatuan antar kompoten masyarakat sangat diperlukan guna menghadapi tantangan global tersebut.

 

''Dan untuk negara seperti Indonesia, rasanya akan menjadi sasaran dari intevensi negara luar. Mengingat peta geographis, demografi dan kekayaan alam Indonesia yang luar biasa. Bukankah pada pasca reformasi kita telah kehilangan Timor Leste,” tutup Idris laena. (hs), foto : dok/hr.

 


  • SHARES
BERITA TERKAIT
Masyarakat Ekuador Terpesona Misi Kesenian Indonesia
16-08-2017 / KOMISI VI
Pemerintah dan masyarakat di Ekuador sangat terpesona dengan misi kesenian Indonesia yang tampil di negara tersebut. Beragam tarian, busana, dan...
Presiden Tidak Optimal Majukan Koperasi dan UKM
16-08-2017 / KOMISI VI
Komitmen pemerintah dalam memajukan dan memeratakan kesejahteraan rakyat sudah menjadi janji politik Presiden Joko Widodo yang disampaikan dalam  pidato penyampaian...
Pemerintah Ekuador Ingin Jalin Kerja Sama Pertambangan
16-08-2017 / KOMISI VI
Pemerintah Ekuador sangat menginginkan Indonesia mau bekerja sama mengelola pertambangan. Saat ini Ekuador punya tambang tembaga yang belum dikelola. Bila...
Perubahan Direksi Pertamina Harus untuk Kepentingan Bangsa
16-08-2017 / KOMISI VI
Perubahan yang terjadi di jajaran direksi Pertamina diimbau agar mengedepankan kepentingan bangsa, selain juga untuk kemajuan korporasi. Tak boleh ada...