Indonesia Kecam Agresi di Azerbaijan

17-02-2017 / B.K.S.A.P.

Ketua Grup Kerja Sama Bilateral (GKSB) DPR RI Meutya Viada Hafid menegaskan Indonesia mengecam tindakan agresi  Armenia terhadap Republik Azerbaijan. Sebagaimana diketahui, Armenia melakukan pembantaian dengan tujuan pembersihan etnis atau genosida di kawasan Nagorno – Karabkh.

 

“Indonesia selalu menentang adanya agresi kependudukan oleh siapapun dan dimanapun. Tidak hanya di Azerbaijan tetapi juga dinegara lainnya,” tegas politisi dari F-PG itu usai pemutaran film dokumenter “Endless Corridor” untuk memperingati 25 tahun genosida Khojaly di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Jumat (17/02/2017).

 

Dalam kesempatan tersebut, Meutya juga menyampaikan dukungannya terhadap resolusi PBB yang menyerukan penarikan seluruh pasukan Armenia tanpa syarat. Setidaknya, sudah ada empat resolusi PBB terkait hal ini, namun Armenia masih menguasai wilayah Nagorno – Karabkh dan wilayah sekitarnya sampai saat ini.

 

“Saya harap PBB dapat menegakkan resolusi yang sudah dikeluarkan sebelumnya, karena kalau hanya resolusi saja tanpa enforcement maka ini akan menjadi resolusi yang sia-sia,” ungkapnya.

 

Disisi lain, lanjutnya, sebagai bentuk dukungan GKSB akan melakukan kunjungan ke Azerbaijan dalam waktu terdekat untuk melihat langsung kondisi di sana sekaligus melakukan dialog dengan pejabat terkait untuk mencari solusi agar konflik tersebut segera berakhir.

 

“Terkait konflik  Nagorno – Karabkh yg sudah berjalan 25 tahun lebih Indonesia akan mengedepankan dialog dan kerjasama dalam bentuk lainnya. Mudah-mudahan ini akan memperkuat posisi Azerbaijan di kancah internasional sehingga diplomasi lainnya akan mudah dilakukan,” tandas Meutya.

 

Di tempat yang sama, Duta Besar Azerbaijan untuk Indonesia Tamerlan Garayev mengapresiasi Parlemen Indonesia yang telah konsisten menolak agresi dan peduli terhadap peristiwa yang terjadi di Azerbaijan. 

 

Sebelumnya, lanjut Tamerlan, Ketua DPR RI periode 2009 – 2014 Marzuki Alie  bersama anggota DPR lainnya telah menandatangani petisi pengakuan peristiwa Genosida di Khojaly.

 

“Ini menunjukkan bahwa Indonesia bersungguh-sungguh menegakkan keadilan dan peduli terhadap perdamaian di seluruh dunia,” ungkap Tamerlan Garayev.

 

Acara ini turut dihadiri Mahasiswa Universitas Syarif Hidayatullah, Universitas Islam Negeri, Universitas Muhammadiyah. Film Endless Corridor menceritakan tragedi berdarah yang  dikenal dengan Genosida Khojaly.

 

Khojaly adalah kota di Azerbaijan yang terletak di dalam batas administratif wilayah Nagorno-Karabkh. Pada 25 Februari 1992, pasukan bersenjata Armenia dibantu infanteri resimen 366 bekas Uni Soviet menyerang Khojaly dan melakukan pembantaian terhadap ribuan penduduk Azerbaijan.

 

Akibat pembantaian brutal itu, 613 orang dibunuh, termasuk 106 perempuan, 83 anak-anak, dan 70 lanjut usia. Sebanyak 1.275 orang disandera dan lebih dari 150 orang belum ditemukan hingga kini. Bahkan, belum ada yang diadili atas pembantaian dan pelanggaran HAM tersebut. (ann,sc)/foto:kresno/iw.

BERITA TERKAIT
BKSAP Serukan Parlemen Uni Eropa Tinjau Ulang Resolusi Sawit
23-05-2017 / B.K.S.A.P.
Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI meminta delegasi Parlemen Uni Eropa untuk meninjau ulang hasil resolusi yang diterbitkannya...
GKSB DPR-RI Terima Kunjungan Parlemen China
23-05-2017 / B.K.S.A.P.
Grup Kerja Sama Bilateral (GKSB) DPR-RI menerima kunjungan Parlemen Tiongkok di Ruang Rapat BKSAP Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (23/5)....
Perubahan Iklim Butuh Perhatian Parlemen Dunia
15-05-2017 / B.K.S.A.P.
Isu perubahan iklim butuh perhatian parlemen dunia, terutama dalam mendorong pendanaan program tersebut untuk mengatasi dampak negatif dari perubahan iklim...
Legislator Dukung Pembangunan Infrastruktur Desa Lakkang,Makassar
28-04-2017 / B.K.S.A.P.
Wakil Ketua Badan Kerjasama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Dave Akbarshah Fikarno mendorong infrastruktur desa Lakkang, Makassar, Sulsel. Hal tersebut...

  • SHARES