Rusaknya Terumbu Karang Raja Ampat Rugikan Indonesia

16-03-2017 / KOMISI IV

Kandasnya Kapal pesiar Inggris Caledonian Sky berbendera Bahama dengan panjang 90 meter usai melakukan aktivitas pemantauan burung di Pulau Waigeo pada Sabtu, 4 Maret 2017 di kawasan konservasi Raja Ampat berdampak pada rusaknya terumbu karang di lokasi tersebut.

 

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Herman Khaeron mengatakan, hal itu sangatlah merugikan bagi bangsa Indonesia, mengingat Kawasan Raja Ampat  mempunyai keunikan (ciri khas) tersendiri yang tidak ditemui dibelahan bumi lainnya.

 

“Kawasan Raja Ampat memiliki keanekaragam sumber daya yang sangat melimpah, baik flora dan faunanya, untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat Indonesia. Anugerah terbesar yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa itu harus selalu dijaga dan lestarikan oleh bangsa Indonesia demi kesejahteraan generasi saat ini dan yang akan datang,” ucap Herman, dalam pernyataan pers, Rabu (15/03/2017).

 

Ia meminta kepada Pemerintah khususnya Kementerian Kelautan Perikanan, dan Lingkungan Hidup dan Kehutanan selaku mitra dan yang mempunyai kewenangan, agar segera membentuk Tim Khusus pencari fakta pemberian ijin akses kapal masuk ke area kawasan konservasi dan menghitung kerugian yang ditimbulkannya.

 

“Perlu ada koordinasi antara Kementerian terkait dengan pemerintah daerah, dalam rangka mencari data dan informasi teknis untuk mendapatkan bukti yang kuat. Selain itu perlu ada tindakan hukum pidana kepada nakhoda Kapten Keith Michael Tailor, karena sudah lalai dalam menjalankan tugas khususnya tidak mempertimbamgan arus, gelombang dan kondisi alam, sebagaimana amanat UU 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, dan UU No 1 tahun 2014 tentang Pengolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil,” tegasnya.

 

Herman juga meminta agar ada penindakan hukum secara perdata, dengan meminta ganti rugi kepada pihak asuransi kapal, mengingat implikasi yang merusak tidak dapat pulih kembali dalam jangka waktu dekat.

 

“Pemerintah harus melakukan pengawasan dan monitoring terhadap kawasan konservasi yang menjadi aset kekayaan dan keanekaragaman hayati bangsa Indonesia,” pungkas Herman. (dep,mp)/foto:iwan armanias/iw.


  • SHARES
BERITA TERKAIT
Beberapa Faktor Jadi Kendala Produksi Sagu di Kepulaun Meranti, Kepri
22-09-2017 / KOMISI IV
Produksi sagu di Kepulauan Meranti, Provinsi Kepulauan Riau belum maksimal. Beberapa kendala yang menghambat adalah, pertama teknis pengolahan sagu sehingga...
Komisi IV DPR Apresiasi Pemerintah Stabilkan Harga Bahan Pangan
20-09-2017 / KOMISI IV
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Roem Kono mengapresiasi peran pemerintah yang telah menjaga harga bahan pangan di pasaran menjadi...
Komisi IV DPR Terima Pokja Kebijakan Konservasi
19-09-2017 / KOMISI IV
Komisi IV DPR menerima audiensi  dari Kelompok Kerja (Pokja) Kebijakan Konservasi, FORETIKA serta guru besar dai berbagai Universitas. Audiensi ini bertujuan...
Komisi IV Terima Forum Penyelamat Hutan
18-09-2017 / KOMISI IV
Komisi IV DPR menerima audiensi dari Forum Lingkungan Hidup dan Penyelamat Hutan terkait penolakannya terhadap lahirnya Peraturan Menteri Lingkungan Hidup...