DPR Pertanyakan Kredibilitas Ketua KPK

16-03-2017 / LAIN-LAIN

Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah kembali mempertanyakan kredibilitas Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo dalam mengusut dugaan korupsi proyek e-KTP yang tidak transparan dan terkesan mengada-ada. Sebab, pemegang proyek itu mantan Mendagri Gamawan Fauzi, menurutnya  bersih, berkomitmen, dan bahkan mendapat Bung Hatta Awards.

 

 Gamawan sendiri sudah memberi kesaksian jika dirinya tidak menerima satu rupiah pun dari proyek tersebut. Bahkan sebelum tender, Gamawan menggandeng 15 kementerian negara untuk mendapatkan kesepakatan agar proyek e-KTP ini sukses dan berjalan dengan baik karena akan digunakan untuk pemilu 2014.

 

 “Jadi, saya lebih percaya Gamawan Fauzi dibanding Agus Rahardjo. Apalagi dalam audit BPK 14 Juni 2014, tender e-KTP itu dinyatakan bersih, dan hanya ada potensi kerugiakan negara sebesar Rp 45,9 miliar. Tapi, kini tiba-tiba Agus Rahardjo bilang ada kerugian negara Rp 2,3 triliun. Dari mana itu audit?,” tanya Fahri Hamzah saat  diskusi dialektika demokrasi “'Perlukah Pansus e-KTP?” bersama pengamat Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) Yenti Garnasih di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (16/3/2017).

 

 Sama dengan kasus Hambalang, lanjutnya, KPK sibuk ngurus uang yang Rp 25 miliar (bukan uang APBN), sedangkan kerugian negara Rp 2,5 triliun malah tidak diurus. Demikian pula skandal bank Century. “KPK banyak menyebut nama-nama yang diduga terlibat. Tapi, sampai sekarang yang dipidana hanya Budi Mulya dan Robert Tantular yang tak mengerti soal baillout. Lalu, nama-nama yang lain kemana?” tanya politisi PKS ini kecewa.

 

“Apalagi sebelumnya konsersium Agus Rahardjo kalah tender dan meski proyek e-KTP ini jalan terus, namun dia terus berusaha ‘ngrecoki’. Padahal, audit yang dipakai KPK dari BPKP bukan BPK, dan yang membuat kerugian negara itu BPK. Tapi, kasus ini tiba-tiba diblow up besar-besaran dengan arah yang tidak jelas. Bagaimana dengan 15 kementerian yang terlibat. Betulkah ada korupsi? Kalau tidak, berarti sengaja menyerang DPR,” jelas Fahri.

 

Untuk itu Fahri mengusulkan angket e-KTP, agar semuanya terbuka dan kita menonton drama apa yang terjadi sebenarnya di dalam proyek e-KTP ini? Seharusnya semua mendukung ini, karena nama-nama tersebut hanya berdasarkan nyanyian Nazaruddin (eks Bendum Demokrat) itu. “Jadi, Nazaruddin ini bukan justice collaborator, melainkan justice kalkulator. Apa seperti ini cara mengelola negara. Semua dirusak dengan intimidasi?” ujarnya.

 

Fahri mempertanyakan kenapa tidak suka dengan investigasi yang dilakukan oleh DPR RI? Bahwa angket DPR itu perintah UUD Negara Republik Indonesia 1945 dan aturan DPR RI. “Jadi, tidak usah alergi dengan angket DPR,” pungaksnya.

 

Sementara, Yenti Garnasih berharap KPK menyampaikannya dengan benar. Baik konstruksi maupun struktur orang-orang yang menerima dan mengembalikan itu justru lebih mudah dibuktikan. Dimana orang yang mengembalikan uang korupsi itu tidak serta-merta bebas dari pidana. “14 orang yang mengembalikan uang itu justru ditersangkakan dengan UU TPPU. Sementara 60 orang yang disebut akan menerima itu belum tentu menerima,” katanya.

 

Namun, Yenti tidak mau disalahkan selaku anggota Pansel anggota KPK dengan memilih Agus Rahardjo. Mengapa? Karena menurut dia, yang menentukan keanggotaan KPK tersebut juga Komisi III DPR RI. “Jadi, tanpa keterlibatan DPR, Pak Agus juga akan terpilih,” ungkapnya. (sc) Foto : Runi/od.

BERITA TERKAIT
Biro Pemberitaan Parlemen Setjen DPR Raih Dua Penghargaan Public Relations Indonesia Award 2017.
27-03-2017 / LAIN-LAIN
Program Public Relations Indonesia Award (PRIA) 2017 memberikan dua penghargaan kepada Biro Pemberitaan Parlemen Sekretariat Jenderal DPR RI untuk kategori media internal sub kategori...
DPRD Probolinggo Konsultasi Mekanisme dan Tata Cara Penyusunan Raperda Ke BKD DPR RI
24-03-2017 / LAIN-LAIN
Kepala Badan Keahlian DPR RI (BKD) Johnson Rajagukguk menerima kunjungan DPRD Porbolinggo di Gedung Setjen DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu...
BPKP Perwakilan Sumut Telah Lakukan Pendampingan SAP Berbasis Akrual
22-03-2017 / LAIN-LAIN
  Tim Pusat Kajian Akuntabilitas Keuangan Negara (PKAKN), Badan Keahlian DPR RI melakukan kunjungan kerja ke Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan...
Reformasi Birokrasi Setjen dan BKD, Ada Peningkatan Nilai Tapi Belum Signifikan
22-03-2017 / LAIN-LAIN
Dari evaluasi yang telah dilakukan, pelaksanaan Reformasi Birokrasi (RB) di Sekertariat jenderal (Setjen) DPR RI pada 2016 telah terjadi peningkatan...

  • SHARES