BK DPR Gelar FGD Optimalkan Partisipasi Publik Susun RUU

10-08-2017 / LAIN-LAIN

Badan Keahlian DPR mengadakan Focus Group Discussion (FGD) dengan tiga pakar Politik, yaitu Dr. Andri Yusron, Ronald Rofiandri dan Sebastian Salang  guna mendapat masukan cara mengoptimalisasi partisipasi masyarakat dalam penyusunan Naskah Akademik Rancangan Undang- Undang (RUU) dan Draf RUU. 

 

Kepala Pusat Perencanaan Undang-Undang Inosentius Samsul mengatakan, rekonstruksi partisipasi masyarakat dalam proses legislasi merupakan inovasi strategi untuk meningkatkan kualitas NA Rancangan Undang-undang dan Draf RUU yang disiapkan BKD. 

 

“NA RUU merupakan produk tanggungjawab BKD dengan ukuran  kinerja berupa jumlah, kulitas dan kepuasan dari Anggota DPR dan AKD yang akan menggunakan NA tersebut. Dalam rangka itu, maka kita perlu mencari inovasi agar NA RUU dapat berkualitas. Salah satu cara yang paling mendasar adalah mengoptimalisasi partisipasi masyarakat,” ungkap Sensi sapaan akrabnya di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (10/8). 

 

Masyarakat perlu dilibatkan, pasalnya lanjut Sensi akhir dari perumusan kebijakan UU ini akan memberikan dampak yang akan dirasakan masyarakat. Maka, sudah selayaknya mereka (masyarakat) yang akan dibebankan oleh kewajiban-kewajiban harus tahu proses perumusan UU tersebut. 

 

“Apa yang dilakukan ini sebagai strategi untuk terus meningkatkan kualitas dalam penyusunan NA RUU yang dihasilkan BK DPR.  Teknisnya itu nanti kami mau buat partisipasi secara online, karena sekarang sudah era teknologi, kita akan buat yang mempermudah masyarakat,”pungkasnya. 

 

Melihat inovasi yang akan dilakukan BK DPR, salah satu pakar politik yang hadir, Sebastian Salang memberi apresiasi dan menilai upaya membuka ruang partisipasi publik yang lebih substasional merupakan langkah yang sangat baik. 

 

“Kita mengetahui apabila sebuah kebijakan itu melibatkan partisipasi yang luas dari publik, akan membuat masyarakat merasa memiliki kebijakan tersebut,”ujar Sebastian yang juga Koordinator Forum Masyarakat Perduli Parlemen Indonesia (FORMAPPI). 

 

Lebih lanjut, dia mengatakan dengan tingginya partisipasi publik juga akan menambah legitimasi terhadap kebijakan yang dihasilkan, dan juga merupakan solusi terhadap persoalan yang ada di masyarakat. “Ruang partisipasi memang sudah ada dan dijamin Undang-Undnag Nomor 12  tahun 2011 tentang peraturan pembuatan UU. Tapi masalahnya apakah kita sudah masuk ke ruang partispasi pubik atau hanya sebatas formalitas? Nah ini yang coba dijawab, Jangan sampai partisipasi publik itu hanya untuk memenuhi ketentuan karena kewajiban UU,” tuturnya.  

 

Dia juga menyarankan agar ada sinegri  antara Humas, Perancang UU dan pihak yang menerima pengaduan. Sehingga orang mau menyampaikan aspirasi lewat kanal manaupun informasi itu menjadi masukan yang berharga dalam penyusunan RUU itu sendiri.(ria,mp) Foto: Arief/jk


  • SHARES
BERITA TERKAIT
Para Teladan Harapkan Kesejahteraannya Ditingkatkan
16-08-2017 / LAIN-LAIN
Sabarudin Ilyas salah satu teladan yang hadir untuk menyaksikan Pidato Kenegaraan Presiden RI dalam Rangka HUT Proklamasi Kemerdekaan RI Ke-72...
Teladan Bidang Kehutanan Bangga Hadiri Peringatan HUT RI RI ke-72 di Gedung DPR RI
16-08-2017 / LAIN-LAIN
Sebagaimana peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan RI pada tahun-tahun sebelumnya, di HUT Proklamasi RI ke-72 tahun ini DPR RI...
Indah Kurnia Gelar Konser Keberagaman Itu Indah
14-08-2017 / LAIN-LAIN
Semangat  menjunjung tinggi keberagaman sudah ditanamkan sejak ia masih kecil, bahkan Indah Kurnia yang lahir di lingkungan Nasrani ini pernah...
Selama Penyusunan Anggaran, DPR Selalu Terbuka dan Transparan
10-08-2017 / LAIN-LAIN
DPR yang menempati peringkat pertama dalam transparasi anggaran se-ASEAN versi penelitian Gesellschaft fur Internationale Zusammenarbeit (GIZ) menjadi kebanggaan tersendiri. Ini...