Saling Menghormati Guna Membangun Dialektika Kebangsaan

13-09-2017 / KOMISI III

Pergunjingan tentang panggilan "yang terhormat" untuk anggota DPR menjadi viral di lini media masa, namun sayangnya informasi yang disajikan tidak sepenuhnya utuh. Informasi yang sepotong-sepotong bahkan terkesan diplintir negatif membuat kesan sebagian anggota DPR gila hormat.

 

Anggota Pansus Angket KPK DPR RI Arteria Dahlan yang menjadi objek sorotan media karena pernyataannya yang mengingatkan Pimpinan KPK yang tidak menyebut anggota DPR "yang terhormat". 

 

Padahal kalau dicermati dengan baik, pernyataan dia sejatinya hanya ingin mengingatkan kepada para majelis rapat agar membangun peradaban yang baik, menjaga forum rapat antara DPR dengan KPK tetap terjali saling respek, khidmat dan tidak saling menjatuhkan antar lembaga negara. Sangat tidak elok jika sesama lembaga negara yang seharusnya sinergi saling membangun bangsa malah justru sebaliknya. Maka untuk menghindari kondisi tersebut bisa dimulai dengan budaya saling menghormati. 

 

Lebih lanjut dia menambahkan panggilan "yang terhormat" yang secara etis disematkan kepada Anggota DPR di forum sidang, esensinya untuk mengingatkan para Anggota DPR agar selalu menjaga kehormatan sebagai wakil rakyat. "(panggilan) 'Yang terhormat' tidak dimaksudkan sebagai saya gila hormat, atau ingin dihormati, akan tetapi lebih mengingatkan kepada kami anggota DPR untuk  berperilaku terhormat, ini esensinya," ungkap Arteria kepada Parlementaria, Rabu (13/9/2017). 

 

Saling menghormati di forum rapat antara lembaga negara berguna untuk membagun dialektika kebangsaan yang rukun dan harmoni. Dia juga mengharapkan, alangkah baiknya media yang telah memberitakan Anggota DPR gila hormat, ke depan dapat memberitakan secara obyektif, fair dan mengedukasi masyarakat serta menginformasikan bahwa masih banyak wakil rakyat yang bekerja dengan baik.

 

"Perlu untuk diketahui bahwa pembicaraan saya dalam rapat tersebut sekitar 18 menit, bahkan saya dengan tegas mengatakan bahwa saya siap mundur jika KPK dibekukan, ini merupakan komitmen saya mendukung penguatan dan perbaikan KPK. Tapi sama sekali tidak menjadi bagian dalam pemberitaan," jelas Arteria. 

 

Bahkan saat rapat antara Komisi III dengan KPK, senin dan selasa lalu, Arteria menilai tidak terlihat dialektika kebangsaan. Menurutnya ada dinding besar "bersekat", terkesankan ada kaum sana dan ada kaum sini, bukan sebagai balutan keluarga besar Indonesia Raya. Di akhir keterangannya dia mengatakan, "Saya Cinta KPK Saya Cinta NKRI." (eko/sc). Foto: Andri/od.

 


  • SHARES
BERITA TERKAIT
Komisi III Soroti Anggaran Densus Tipikor Polri
19-09-2017 / KOMISI III
Pagu anggaran Kepolisian Republik Indonesia pada RAPBN 2018 sebesar Rp 77 triliun. Namun, Polri meminta tambahan anggaran sebesar Rp 35,6...
Dibutuhkan Pembekalan Pemahaman Tipikor kepada Kepala Desa Kalsel
15-09-2017 / KOMISI III
Anggota Tim Kunjungan Komisi III DPR RI Bambang Heri Purnama meminta aparat penegak hukum Provinsi Kalimantan Selatan, melakukan pembekalan pengetahuan...
Komisi III Soroti Kinerja Aparat Penegak Hukum Kalsel di Kasus Tipikor
15-09-2017 / KOMISI III
Wakil Ketua Komisi III DPR RI yang juga Ketua Tim Kunjungan Komisi III DPR RI ke Provinsi Kalimantan Selatan Desmon...
Mekanisme Pencegahan Harus Lebih Dikedepankan Dibanding Penindakan
15-09-2017 / KOMISI III
Anggota tim kunjungan kerja Komisi III DPR RI Arteria Dahlan mengatakan, Operasi Tangkap Tangan atau OTT yang kerap dilakukan oleh...