Pengembangan Ekraf Harus Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat

13-10-2017 / KOMISI X

Industri kreatif yang dikelola secara tepat dan baik diyakini dapat meningkatkan nilai tambah dan daya saing, guna memicu tumbuhnya inovasi dan kreativitas serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk mewujudkan itu diperlukan strategi khusus guna mewujudkan industri kreatif yang dapat menggairahkan perekonomian di daerah.

 

Dalam rangka itu, Tim Komisi X DPR RI dipimpin Ketua Komisi X, Sutan Adil Hendra melakukan kunjungan kerja spesifik guna mendapat masukan dan aspirasi terkait RUU Ekonomi Kreatif (Ekraf) ke Provinsi Sumatera Selatan.

 

Dia mengungkapkan, pada dasarnya pengembangan ekraf bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dalam upaya pengembangan ekonomi kreatif, sebagaimana strategi dan arah kebijakan yang tercantum di dalam RPJMD Pemprov 2003-2018 diharap mampu menanggulangi kemiskinan sebagai prioritas pembangunan daerah.

 

Sutan juga berpesan agar Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dapat meningkatkan tradisi daerah yang sudah ada seperti songket, kuliner khas Sumsel seperti pempek dapat dikembangkan lagi secara kreatif dan bernilai ganda. "Kita ingin Bekraf itu ada untuk meningkatkan apa yang sudah ada lebih berkembang lagi. Bagaimana pengembangan ekraf ke depan. Jadi penekanan kami dari sisi politik, Komisi X kami minta Bekraf harus hadir di setiap langkah yang berhubungan dengan ekraf," papar Sutan di Griya Agung, Sumsel, Kamis (12/10) sore.

 

Senada dengan itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadis Budpar) Sumsel Irene Camelyn Sinaga mengatakan, industri kreatif punya tujuan mensejahterakan masyarakat dan perluasan lapangan kerja, sehingga apa yang sudah ada di Sumsel bisa dinaikkan lagi retingnya.

 

"Dalam arti kualitas produk, packing dan sebagainya, diharapkan dapat menghasilkan dua kali lipat kesejahteraan yang sudah ada. Industri kreatif sudah ada tinggal bagaimana menaikkan levelnya dengan keuntungan yang ganda," ujar Irene.

 

Di Sumsel, kuliner fashion, kria, dan seni pertunjukan merupakan bidang ekonomi kreatif yang menjadi proritas pembangunan ekraf jangka pendek, menengah, dan jangka panjang. Bumi Sriwijaya ini, memiliki potensi kuliner yang beragam dan unik, diantara kuliner tersebut telah menjadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTB), yakni Pempek dan Kue Bolu 8 Jam. Di samping itu terdapat kuliner khas lainnya seperti pindang, lempok, rusip, tempoyak, bekasam.

 

Fashion di Sumsel memiliki potensi pengelolaan tekstil dengan produk antara lain Songket yang sudah menjadi WBTB Indonesia, Jumputan, Blongsong, Tajung, Gebeng, dan Batik Palembang. Adapun kerajinan atau kriya khas Sumsel ada perhiasan emas, kerajinan perhiasan perak dan gerabah serta kerajinan rakyat lainnya. (eko,mp) foto:eko/afr


  • SHARES
BERITA TERKAIT
Legislator Harapkan Asian Games 2018 Sukses Prestasi dan Penyelenggaraan
16-07-2018 / KOMISI X
Terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games XVIII 2018 merupakan momentum untuk mensukseskan prestasi atlet sebagai juara di setiap cabang...
Komisi X Minta Tak Ada Plonco pada MOS
16-07-2018 / KOMISI X
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Sutan Adil Hendra meminta jangan ada praktek perploncoan dan perundungan pada awal-awal masuk sekolah,...
Komisi X Tekankan Pentingnya Kebersihan dan Kenyamanan untuk Atlet
16-07-2018 / KOMISI X
Asian Games XVIII 2018 di Jakarta dan Palembang tak lama berlangsung. Sejumlah persiapan sarana dan prasarana pun terus dikebut oleh...
Legislator Kritik Harga Tiket Asian Games
16-07-2018 / KOMISI X
Anggota Komisi X DPR RI Ferdiansyah memberikan kritik terhadap harga tiket Asian Games 2018 yang dinilai terlalu mahal bagi masyarakat....