Jangan Anggap Remeh Kerusakan Lingkungan

11-01-2018 / KOMISI IV

Anggota Komisi IV DPR RI Rahmad Handoyo. Foto : Eno/Man

 

Beberapa tahun terakhir isu perubahan iklim tengah menghantui masyarakat dunia. Sebab, terjadinya perubahan iklim secara otomatis akan mengubah tatanan lingkungan makhluk hidup di bumi. Dampak yang paling terasa adalah pada masalah suhu. Namun, perubahan suhu secara drastis bukanlah menjadi satu-satunya dampak, karena perubahan yang mencolok terjadi juga pada penurunan oksigen di bumi. Anggota Komisi IV DPR RI Rahmad Handoyo menyatakan agar masalah ini jangan di anggap remeh.

 

“Saya sangat prihatin akan hal tersebut. Pasalnya, persoalan itu terjadi karena tidak terlepas dari dampak kerusakan lingkungan yang di akibatkan oleh ulah manusia,” ucap Rahmad dalam pesan singkatnya kepada Parlementaria, Kamis (11/01/2018).

 

Politisi F-PDI Perjuangan itu meminta kepada semua stakeholder yang ada untuk segera mengambil langkah antisipasi dini. Menurutnya, jika tidak diantisipasi, maka laut yang banyak menghasilkan sumber pangan akan kehilangan sumberdayanya.

 

“Langkah efektif yang harus diambil untuk mengantisipasi persoalan ini ialah kita harus mengurangi emisi efek rumah kaca. Aliran sungai harus selalu bersih dari sampah dan limbah, Pemerintah harus peka terhadap perubahan iklim ini segera mengambil langkah-langkah agresif kemudian merawat terumbu karang dan ekosistem laut serta melindungi populasi ikan,” paparnya.

 

Sehubungan dengan regulasi yang ada, politisi asal dapil Jawa Tengah itu mengimbau agar dilakukan suatu edukasi secara terus menerus kepada masyarakat dan semua pihak, supaya kelestarian lingkungan tetap terjaga.

 

“Semua pihak harus tegas dalam menjalankan aturan yang ada, kita sebagai pelaksana fungsi legislasi dan pengawasan mempunyai tanggungjawab penuh dalam mengawasi dan membuat regulasi. Kita akan lakukan berbagai kajian guna menyempurnakan regulasi yang ada sekarang ini,”  tandas Rahmad.

 

Seperti dilansir oleh beberapa situs dunia maya, Daniel Stolper seorang ahli geokimia di Princeton University di New Jersey sempat mengatakan bahwa pada dasarnya kadar oksigen di atmoster itu terkait erat dengan evolusi kehidupan di bumi, seperti halnya perubahan siklus geokimia terkait dengan variasi iklim.

 

Ada dua hipotesis yang mungkin bisa menjelaskan fenomena penurunan oksigen. Pertama, tingkat erosi global meningkat selama puluhan juta tahun. Peningkatan erosi dapat melepaskan lebih banyak pirit (mineral yang mengandung besi dan belerang, RED) dan karbon organik ke atmosfer. Penelitian sebelumnya menemukan bahwa pirit dan karbon organik dapat bereaksi dengan oksigen dan melenyapkannya dari atmosfer.

 

Kedua, ketika laut mendingin seperti terjadi sekitar 15 juta tahun sebelum pembakaran bahan bakar fosil, kandungan oksigen di laut meningkat. Artinya, lautan dapat menyimpan lebih banyak okigen pada suhu dingin dan menyumbang konsentrasi oksigen di atmosfer. Mikroba yang bergantung pada oksigen di laut dan di batuan sidimen kemudian menjadi lebih aktif dalam mengonsumsi oksigen, sehingga membuat kandungan oksigen di atmosfer ikut menurun. (dep/sf)


  • SHARES
BERITA TERKAIT
Pemerintah Harus Ambil Langkah Cepat Proteksi Petani Lokal
20-04-2018 / KOMISI IV
Anggota Komisi IV DPR RI Sulaiman L. Hamzah menilai, pemerintah harus mengambil langkah cepat terkait proteksi terhadap petani lokal khususnya...
Kementan Harus Penuhi Kebutuhan Petani Bawang Putih
20-04-2018 / KOMISI IV
Anggota Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto meminta Kementerian Pertanian untuk memenuhi seluruh kebutuhan yang diperlukan petani bawang putih....
Indonesia Tak Boleh Tergadai Impor Bawang Putih
19-04-2018 / KOMISI IV
Bangsa Indonesia tidak boleh tergadaikan oleh kebijakan impor pangan, khususnya komoditas bawang putih. Pasalnya, 95 persen kebutuhan bawang putih...
Legislator Desak Pemerintah Tuntaskan Kebocoran Pipa Minyak di Balikpapan
18-04-2018 / KOMISI IV
Anggota Komisi IV DPR RI Kasriyah mendesak pemerintah, dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk terus mengusut...