Tingginya Pertumbuhan Ekonomi Sulut tak Diimbangi Penurunan Rasio Gini

02-02-2018 / BADAN ANGGARAN
Tim Kunjungan Kerja Spesifik Banggar DPR meninjau proyek pembangunan tol Manado-Bitung di Sulut. Foto: Sofyan/jk

 

 

Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Utara pada Triwulan II Tahun 2017 tercatat sebesar 5,80 persen. Bahkan, capaian ini lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,01 persen. Namun, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tak diimbangi dari penurunan rasio gini. Tercatat, Sulut menduduki rasio gini terburuk ke-8 se-Indonesia atau sebesar 0,394. Sementara rasio gini nasional berada di angka 0,391.

 

“Pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu akan bernilai kurang, kalau rasio gini masih melebar. Karena rasio gini melebar itu artinya pertumbuhan tidak berkualitas. Kita selalu berharap agar semua pertumbuhan itu berkualitas,” tegas Wakil Ketua Badan Anggaran DPR RI Jazilul Fawaid saat menggelar pertemuan dengan jajaran pemerintah di sektor ekonomi dan keuangan di Manado, Sulawesi Utara, Kamis (1/2).

 

Politisi F-PKB itu mengakui, pertumbuhan ekonomi terkadang bisa memberikan efek pada kesenjangan yang tinggi dan kurangnya pemerataan, sehingga rasio gini masih melebar. Namun menurutnya, memberikan pemerataan lebih mudah didorong daripada meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

 

“Ini menjadi catatan kepada Sulut, agar sektor pertumbuhan ini diarahkan pada pemerataan. Karena memang secara nasional, rasio gini ini harus terus diturunkan. Ini tugas kita bersama,” imbuh Jazilul.

 

Jazilul menambahkan, pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dilihat dari capaian tiga indikasi, yakni menurunkan angka pengangguran, mengurangi kemiskinan, dan memperkecil jarak rasio gini atau kesenjangan.

 

“Artinya pertumbuhan ekonomi di Sulut masih ada catatan. Pertumbuhan ekonomi bagus, tapi belum berkualitas secara baik,” tambah politisi asal dapil Jawa Timur itu.

 

Namun di sisi lain, Jazilul mengakui, pihaknya mengapresiasi capaian pertumbuhan ekonomi Sulut yang lebih tinggi dibanding target nasional. Ia pun mendorong pertumbuhan ekonomi Sulut dapat dijaga. Aparatur yang ada juga harus berkomitmen untuk meningkatkan kapasitasnya, karena faktor sumber daya manusia ini juga penting.

 

“Kami tentu memberikan apresiasi, sehingga apa yang menjadi Proyek Strategis Nasional di Sulut agar cepat selesai, seperti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung dan Tol Manado-Bitung harus cepat selesai. Karena ini akan memberikan energi tambahan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Sulut,” harap Jazilul.

 

Sementara itu, Staf Ahli bidang Pengawasan Perpajakan Kementerian Keuangan Puspita Wulandari mengatakan, faktor pendorong dari pertumbuhan ekonomi adalah belanja pemerintah dan konsumsi masyarakat. Namun, konsumsi memang memiliki dominansi terhadap pertumbuhan ekonomi. Sehingga, untuk untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dengan mendorong kontribusi masyarakat agar semakin meningkat. (sf)


  • SHARES
BERITA TERKAIT
Banggar Sambut Baik Usulan Gubernur Bali
29-03-2018 / BADAN ANGGARAN
Badan Anggaran (Banggar) DPR RI menyambut baik usulan Gubernur Bali I Made Mangku Pastika agar dana perimbangan keuangan daerah diserahkan...
Ketimpangan Pembangunan Terjadi di Bali
27-03-2018 / BADAN ANGGARAN
Ketimpangan pembangunan terjadi di Provinsi Bali. Wilayah Bali selatan paling banyak tersentuh pembangunan. Sementara pembangunan tidak menyentuh wilayah Bali utara,...
Kawasan Mandalika Sedang Berbenah
22-03-2018 / BADAN ANGGARAN
Kawasan pariwisata Mandalika di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat kini sedang berbenah. Kawasan wisata ini merupakan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)...
DPR Nilai KEK Mandalika Jaga Kearifan Lokal
22-03-2018 / BADAN ANGGARAN
Pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Mandalika, Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat, dinilai tetap menjaga kearifan lokal sebagai keunggulan...