Stop Kekerasan di Srilanka, Jangan Sampai Terjadi Rohingya Kedua

12-03-2018 / B.K.S.A.P.

Wakil Ketua BKSAP DPR RI, Rofi' Munawar (F-PKS)/Foto:Iwan Armanias/Iw

 

Wakil Ketua Badan Kerjasama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Rofi' Munawar meminta Pemerintah Srilanka segera menghentikan kekerasan yang terjadi terhadap komunitas muslim di negara tersebut. Jika ini tidak dicegah sejak awal, dirinya mengkhawatirkan akan terjadi tragedi kemanusiaan seperti di Rohingya, Myanmar. 

 

"Pola kekerasan yang terjadi di Srilanka memiliki kemiripan dengan apa yang terjadi di Rohingya Myanmar. Adanya pembiaran kekerasan terhadap kalangan minoritas muslim oleh otoritas resmi dan penanganan konflik yang tidak tuntas," ujar Rofi dalam rilis yang diterima Parlementaria,  Senin (12/3/2018).

 

Merujuk laporan Amnesty International, sejak 5 Maret lalu, permukiman yang terdiri dari rumah-rumah, toko-toko, dan sebuah masjid milik komunitas Muslim lokal terbakar hebat di daerah Digana di Kandy. Rofi menganalisis bawa konflik ini seperti bara dalam sekam, karena pemicu konflik jika ditelusuri sangat riskan dan kelihatan terlampau sederhana. Ada akar masalah yang lebih besar terkait relasi sosial dan ekonomi.

 

"Kemampuan mengelola dan meredam konflik akan sangat menentukan pemulihan kondisi di Srilangka saat ini, dan pada saat yang sama harus di dorong  munculnya dialog yang konstruktif," ujarnya. 

 

Legislator asal Jawa Timur ini juga meminta Pemerintah Indonesia untuk memastikan keselamatan warga Indonesia di daerah konflik, membuka komunikasi yang intensif dengan Pemerintah Srilanka dan sekaligus mendorong dihentikannya kekerasan yang terjadi di sana, sebagaimana hal ini telah dilakukan Indonesia di Palestina, Myanmar dan negara-negara konflik lainnya.

 

"Begitu pula lembaga-lembaga internasional, khususnya PBB harus terus memantau perkembangan dan mendorong desakan penghentian kekerasan di Srilanka," tegasnya.

 

Selama setahun terakhir ketegangan antara sejumlah kelompok Buddhis garis keras dengan komunitas minoritas Muslim meningkat. Kelompok-kelompok Buddhis ekstremis menyebarkan tuduhan bahwa warga Muslim telah memaksa orang untuk masuk Islam dan merusak situs arkeologis agama Buddha.

 

Sebagaimana diketahui antara 17 April dan Juni 2017, tercatat ada lebih dari 20 serangan terhadap umat Islam berupa pembakaran di ruko-ruko milik warga Muslim dan serangan bom molotov di beberapa masjid. Lima orang ditangkap. Polisi menduga para pelakunya berafiliasi dengan ormas ultra-nasionalis bernama Bodu Bala Sena (BBS) yang beranggotakan warga Buddha dari etnis Singhala. (hs/sc)

 


  • SHARES
BERITA TERKAIT
Kejahatan Narkoba Lebih Berbahaya Dibanding Terorisme
21-06-2018 / B.K.S.A.P.
Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Nurhayati Ali Assegaf menyatakan bahwa perang melawan narkoba lebih berbahaya dibandingkan...
DPR Tetap Dukung Reformasi Dewan HAM PBB
21-06-2018 / B.K.S.A.P.
Anggota Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Evita Nursanty menyayangkan keluarnya Amerika Serikat (AS) dari Dewan Hak Asasi...
Menembak Mati Paramedis Razan, Israel Melanggar Hukum Internasional
05-06-2018 / B.K.S.A.P.
Wakil Ketua Badan Kerjasama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Rofi Munawar menilai Israel telah melakukan tindakan pembunuhan berencana terhadap paramedis...
Indonesia - Austria Ingin Kembangkan Kerja Sama
24-05-2018 / B.K.S.A.P.
Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Juliari P. Batubara memimpin delegasi DPR RI melakukan kunjungan kerja...