Diperlukan Konsensus Bersama Jalankan Roda Perekonomian Indonesia

31-05-2018 / PARIPURNA

Anggota Komisi XI DPR RI Ecky Awal Mucharam, foto : husen/hr

 

 

Anggota Komisi XI DPR RI Ecky Awal Mucharam memberikan apresiasi terhadap salah satu bagian dari jawaban pemerintah yang dibacakan Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam Rapat  Paripurna DPR, Kamis (31/5/2018), yang menyatakan bahwa perlu ada konsensus bersama dalam menjalankan roda perekonomian Indonesia untuk menjaga keberhasilan pembangunan, kesiapan APBN, dan kesiapan neraca BUMN.

 

“Saya mengapresiasi (keputusan) pemerintah memasukan kesiapan neraca BUMN sebagai bagian dari meminimalisasi distorsi ekonomi,” kata  Ecky di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta.

 

Laporan keuangan pemerintah pusat yang diaudit BPK yang pada saat ini mendapat laporan Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), sambung Ecky, itu belum memasukan laporan keuangan BUMN sebagai bagian konsolidasi dari laporan keuangan pemerintah pusat.

 

“Ketika tidak memasukan laporan keuangan BUMN di dalam Laporan Keuangan Pemerintah Pusat, maka sesungguhnya ada bagian dari yang seharusnya dipertanggungjawabkan oleh pemerintah yang belum terlihat didalam perekonomian nasional,” ujar politisi Fraksi PKS itu.

 

Ia menyatakan, walaupun secara parsial dari masing-masing BUMN itu telah diaudit dan mendapatkan laporan keuangannya, tetapi total utang dari BUMN itu sangat luar biasa. Banyak sekali utang-utang yang dilakukan BUMN mendapatkan jaminan dari pemerintah.

 

“Dengan kata lain, apabila BUMN melakukan wanprestasi terhadap utang-utang tersebut maka pemerintah harus bertanggungjawab. Oleh karena itu pada kesempatan ini saya mengingatkan Menteri Keuangan (selaku) pemerintah. Seyogyanya wakil yang diamanatkan rakyat sebagai pemegang saham adalah Menteri Keuangan, sedangkan menteri BUMN adalah kuasa pemegang saham,” ungkapnya.

 

Ditegaskan Ecky, dengan maraknya BUMN-BUMN melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang katanya antara lain adalah pembangunan infrastruktur dan didanai oleh utang, Menteri Keuangan harus betul-betul paham apakah utang-utang yang dilakukan oleh BUMN itu mampu dan  bisa dibayar dengan proyek-proyek dan kinerja BUMN tersebut. “Atau pada akhirnya hal itu merupakan penggadaian atas BUMN tersebut, dan jangan sampai pemerintah bertanggungjawab apabila BUMN-BUMN itu wanprestasi,” tandas Ecky.

 

Terkait salah satu proyek infrastruktur yang sangat kontroversial, yaitu proyek kereta cepat, Ecky berpendapat, saat kondisi ekonomi (negara) dengan nilai rupiah yang sedang terpuruk, seyogyanya pemerintah memiliki keberanian untuk melakukan evaluasi atas efektivitas dan nilai manfaat bagi perekonomian bangsa ketimbang menjadikan BUMN sebagai ‘gadaian’ atas proyek-proyek yang efisiensinya belum terukur. (dep/sc)

 

 


  • SHARES
BERITA TERKAIT
DPR Beri Catatan dan Dukungan pada KEM-PPKF 2019 Usulan Pemerintah
31-05-2018 / PARIPURNA
Fraksi-fraksi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI telah membacakan pandangan atas Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) Tahun Anggaran...
Diperlukan Konsensus Bersama Jalankan Roda Perekonomian Indonesia
31-05-2018 / PARIPURNA
Anggota Komisi XI DPR RI Ecky Awal Mucharam memberikan apresiasi terhadap salah satu bagian dari jawaban pemerintah yang dibacakan Menteri...
Pemerintah Yakini Tax Ratio 2019 Capai 11,4-11,9 Persen
31-05-2018 / PARIPURNA
Pemerintah meyakini tax ratio atau penerimaan pajak tahun 2019 bisa mencapai 11,4 hingga 11,9 persen. Optimisme pemerintah ini didasari oleh...
Perekonomian 2019 Membaik, Pertumbuhan Capai 5,8 Persen
31-05-2018 / PARIPURNA
Perekonomian nasional di tahun 2019 memiliki potensi yang sangat baik, sehingga pertumbuhan ekonomi pun bisa mencapai pada kisaran 5,4-5,8 persen....