Skala Konsep Gerakan Gemar Membaca Masih Kecil

07-06-2018 / KOMISI X

Anggota Komisi X DPR RI Putu Supadma Rudana, foto : odji/hr

 

 

Anggota Komisi X DPR RI Putu Supadma Rudana mengatakan bahwa kemungkinan konsep gerakan gemar membaca yang selama ini dilakukan diberbagai tempat dan daerah di Indonesia tarafnya masih dalam skala yang kecil. Oleh karenanya ia mengusulkan agar konsep tersebut dilakukan dalam skala yang lebih besar.

 

“Kalau bisa ada gerakan yang massal, sehingga mampu memberikan dampak semangat kepada masyarakat untuk membaca,” ujar Putu dalam Rapat Dengar Pendapat antara Komisi X DPR RI dengan Kepala Perpustakaan Nasional di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (7/6/2018).

 

Menurutnya, kalau hanya berupa sosialisasi saja yang dilakukan maka akan berat untuk bisa mendongkrak literasi minat baca masyarakat. Oleh karenanya, perlu ada pemberian insentif, agar dapat menarik minat baca masyarakat.

 

“Saya juga mendorong diadakan festival membaca atau semacamnya sebagai langkah strategis bagi perpustakaan,” ucap politisi Partai Demokrat itu.

 

Ia memaparkan, di luar negeri ada yang namanya Presidential Library, yakni setiap Presiden yang pernah menjabat dibuatkan sebuah perpustakaan, guna memberikan daya tarik atau dukungan dalam konsep agar semua pihak ingin membaca.

 

Iconic branding dari para mantan Presiden kita juga bisa menarik banyak pihak untuk gemar membaca. Konsep ini bisa disebar diseluruh Indonesia, dan perpustakaan itu nantinya  menjadi ikon duta utama dalam gerakan gemar membaca. Ini bisa menjadi langkah strategis dan politis untuk membangun gerakan membaca, sekaligus sebagai bentuk penghargaan terbesar bagi para pemimpin bangsa,” tutur politisi dapil Bali itu.

 

Sementara itu Kepala Perpusnas M. Syarif Bando dalam paparannya menyampaikan, arah kebijakan perpustakaan tahun 2019 diantaranya, pertama, mengembangkan transformasi pelayanan perpustakaan berbasis inklusi sosial, melalui pemerataan layananperpustakaan berbasis inklusi sosial di tingkat provinsi, kabupaten/ kota, dan desa; peningkatan akses literasi informasi terapan dan inklusif; pendampingan masyarakat untuk literasi informasi.

 

Kedua, arah kebijakan perpustakaan tahun 2019 lainnya adalah meningkatkan budaya gemar membaca melalui peningkatan pean keluarga, komunitas dan kader literasi daerah; peningkatan kualitas dan keberagaman koleksi perpustakaan; dan peningkatan kampanye budaya kegemaran membaca.

 

Dan ketiga, yaitu meningkatkan pengelolaan dan pelestarian fisik, serta kandungan informasi bahan pustaka dan naskah kuno, melalui konservasi fisik bahan perpustakaan dan naskah kuno; dan pelestarian kandungan informasi bahan perpustakaan dan naskah kuno. (dep/sf)


  • SHARES
BERITA TERKAIT
Sebaran Program dan Kegiatan Bekraf Harus Merata ke Seluruh Wilayah Indonesia
24-09-2018 / KOMISI X
Sebaran program dan kegiatan Badan Ekonomi dan Kreatif (Bekraf) RI harus mempertimbangkan proposionalitas dan keadilan di seluruh wilayah Indonesia, dalam...
Pendanaan Menjadi Poin Krusial RUU SSKCKR
24-09-2018 / KOMISI X
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih mengatakan salah satu pasal krusial dalam Rancangan Undang-Undang Serah Simpan Karya...
Pentingnya Buku Sebagai Salah Satu Perangkat Literasi
21-09-2018 / KOMISI X
Rancangan Undang-Undang Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam (RUU SSKCKR) menjadi salah satu regulasi yang cukup penting bagi masyarakat, terutama...
Masyarakat Berperan Penting Dukung Implementasi Serah Simpan Karya
21-09-2018 / KOMISI X
Anggota Tim Panja Rancangan Undang-Undang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam (RUU SSKCKR) Komisi X DPR RI Noor Achmad...