Fundamental Ekonomi Indonesia Cukup Kuat

23-10-2018 / BADAN ANGGARAN

Wakil Ketua Badan Anggaran DPR RI Jazilul Fawaid. Foto : Jaka/Man

 

Wakil Ketua Badan Anggaran DPR RI Jazilul Fawaid menilai Fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup kuat walau rupiah mengalami pelemahan. Dan pertumbuhan ekonomi yang rata-rata di level 5 persen juga dinilai sangat stabil bila dibanding dengan negara-nagara lain.

 

Dengan kekayaan sumber daya alam yang ada, utang dan defisit terjaga, kekuatan demografi, serta pertumbuhan ekonomi yang stabil merupakan kekuatan dari fundamental ekonomi nasional.

 

“Itu menunjukkan fundamental ekonomi kita relatif kuat untuk menyangga kenaikan dollar dan menyangga fluktuasi harga minyak,” kata Jazil, sapaan akrabnya saat ditemui Parlementaria di ruang kerjanya, Gedung Nusantara I DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (23/10/2018).

 

Fundamental ekonomi, jelas legislator Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu, dihitung dari gross domestic product (GDP). Artinya, semua aset yang dimiliki Indonesia dihitung. Berapa uang yang beredar di seluruh Indonesia dan kemudian dihitung berapa defisit yang ada.

 

“Semua yang ada itu menjadi kekuatan fundamental ekonomi. Kenapa relatif kuat, karena pertumbuhan tetap terjaga, meskipun tidak mencapai target 7 persen. Tetapi, 5 persen pertumbuhan itu sudah cukup menjaga pertumbuhan ekonomi,” ungkap Jazil.

 

Selain pertumbuhan yang terjaga, inflasi juga ikut terjaga selama pemerintahan Presiden Joko Widodo. Itu artinya, sambung politisi dari dapil Lamongan dan Gresik ini, masyarakat masih mampu membeli kebutuhan sehari-harinya.

 

Barang-barang tidak naik signifikan. Selama hampir lima tahun pemerintahan Jokowi, inflasi berhasil ditekan. Sementara soal angka kemiskinan yang menjadi bagian dari sorotan fundamental ekonomi, sudah turun menjadi satu digit. Sebelumnya angka kemiskinan dua digit, dari 11 turun menjadi 9,82.

 

”Itu adalah salah satu contoh bahwa kinerja perekonomian berjalan dengan baik. Hanya saja ada satu indikator perekonomian yang kurang bagus, yaitu nilai tukar rupiah terhadap dollar. Nilai tukar rupiah yang melemah jangan hanya dilihat di Indonesia saja, banyak mata uang asing yang juga melemah terhadap dollar, karena memang pertumbuhan ekonomi Amerika sedang baik,” ujarnya.

 

Selain itu, angka yang masih berat untuk ditekan adalah kesenjangan dan ketidakadilan. Salah satu tugas pembangunan selain pertumbuhan adalah pemerataan. Pertumbuhan stabil tapi kurang merata itu tidak sempurna. Pemerataan atau gini rasio yang ada harus terus diperjuangkan, karena di era industri 4.0, pertumbuhan ekonomi tidak serta merta menyerap lapangan kerja yang besar seperti dulu.

 

Pertumbuhan ekonomi harus mampu mengurangi angka pengangguran. Lapangan kerja di dalam negeri sangat terkait dengan pembangunan pabrik dan investasi lain yang padat karya. Selama perusahaan-perusahaan masih menggunakan tenaga manusia yang banyak, tentu secara otomatis menyerap tenaga kerja yang banyak pula. (mh/sf)


  • SHARES
BERITA TERKAIT
Banggar DPR Sepakati Asumsi Makro RAPBN 2021 Dengan Sejumlah Catatan
01-07-2020 / BADAN ANGGARAN
Badan Anggaran (Banggar) DPR RI bersama pemerintah menyepakati asumsi makro pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2021. Memimpin...
Perlu ‘Burden Sharing’ antara Pemerintah dan BI dalam Program PEN
26-06-2020 / BADAN ANGGARAN
Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah mengatakan perlunyapembagian beban bersama (burden sharing) antara pemerintah dan Bank Indonesia (BI)...
Banggar Tetapkan Sementara Asumsi Dasar RAPBN 2021
24-06-2020 / BADAN ANGGARAN
Asumsi dasar untuk RAPBN 2021 mulai dibahas di Badan Anggaran (Banggar) DPR RI. Kecuali Indonesia Crude Price (ICP) dan lifting...
Pemulihan Ekonomi 2020, Kunci Pembangunan 2021
22-06-2020 / BADAN ANGGARAN
Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Siti Mukaromah menyatakan pembangunan nasional tahun 2021 mendatang sangat bergantung pada beberapa indikator. Indikator...