Jalur KA Makassar-Parepare Diduga Sebabkan Banjir di Barru

03-04-2019 / KOMISI V
Wakil Ketua Komisi V DPR RI Ibnu Munzir. Foto: Oji/rni

 

 

Pembangunan jalur Kereta Api (KA) Makassar - Parepare menyisakan dampak lingkungan. Diduga, pembangunan ini berdampak pada meluasnya banjir tahunan yang melanda wilayah Kabupaten Barru dan sekitarnya pada akhir Desember 2018 silam. Wakil Ketua Komisi V DPR RI Ibnu Munzir (F-Golkar) mendorong Ditjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan segera berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memperbanyak bukaan saluran air di sepanjang jalur KA.

 

“Kemungkinan adanya saluran air yang sempit namun ternyata arus airnya besar tentu ini perlu penanganan segera untuk meminimalisir dampak banjir. Atau ada juga yang debit airnya kecil tapi justru dibuat saluran airnya cukup besar,” kata Ibnu pada pertemuan Tim Kunjungan Kerja Reses Komisi V DPR RI dengan Bupati Barru Suardi Saleh, di Rumah Dinas Bupati dengan dihadiri seluruh mitra kerja Komisi V DPR RI, Senin (01/4/2019).

 

Sementara itu, Anggota Komisi V DPR RI Ridwan Bae mendorong Ditjen Perkeretaapian agar lebih baik lagi dalam proses perencanaan terkait pembangunan jalur KA, sehingga tidak memunculkan masalah baru terkait lingkungan berupa banjir bandang. Perlu kerja cepat para pemangku kepentingan untuk melakukan terobosan pembuatan gorong-gorong di sepanjang jalur KA Makassar - Parepare agar kasus banjir bandang tidak terulang kembali,” pinta Ridwan.

 

Legislator Partai Golkar ini berharap ada kerja sama para pemangku kepentingan dalam hal ini Ditjen Perkeretaapian Kemnehub dan Ditjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dalam menanggulangi masalah kekurangan saluran air dan gorong-gorong sebagai solusi meminimalisir terjadinya banjir akibat pembangunan jalur KA.

 

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Barru Suardi Saleh menduga, salah satu penyebab banjir besar yang melanda Barru pada akhir Desember 2018 silam adalah proyek pembangunan rel KA. Ia menjelaskan, tak adanya saluran air dari di sekitar jalur kereta api membuat air dari arah pegunungan yang berada di sepanjang timur Barru mengalir ke sungai dan membuat sungai meluap. Menurutnya, potensi banjir besar akibat proyek rel KA di Barru sudah terlihat sejak tahun lalu.

 

Ia juga memberi masukan terkait jalur di bawah rel KA atau underpass. Menurutnya underpass yang dibangun saat ini tidak layak karena menjadi kubangan air setiap hujan. “Agar bencana serupa tak lagi terjadi ditahun-tahun mendatang, mohon membuat kajian tentang hal ini. Karena air yang massif dari gunung tertahan oleh rel KA. Posisi kita bukan menolak kebijakan nasional, tapi memberi masukan agar tak memberi ekses negatif kepada warga," pungkasnya. (oji/sf)


  • SHARES
BERITA TERKAIT
Masyarakat Butuh Transportasi ‘Online’
06-07-2020 / KOMISI V
Anggota Komisi V DPR RI Ansar Ahmad memberi perhatian khusus pada status kendaraan bermotor atau angkutan berbasisonline.Menurutnya, keberadaan transportasionlinesampai saat...
Aplikasi Transportasi ‘Online’ Diusulkan Jadi Perusahaan Transportasi
06-07-2020 / KOMISI V
Wakil Ketua Komisi V DPR RI Nurhayati Monoarfa menyatakan aplikasi yang selama ini bergerak di bidang transportasi secara online harus...
‘Land Banking’ Harus Diatur dalam Revisi UU Jalan
02-07-2020 / KOMISI V
Wakil Ketua Komisi V DPR RI Nurhayati Monoarfa menyatakan land bankingharus jelas diatur dalam revisi Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004...
Komisi V Harap Kemenhub Monitor Mahalnya Tarif Tiket dan ‘Rapid Test’
01-07-2020 / KOMISI V
Anggota Komisi V DPR RI Novita Wijayanti mengharapkan Pemerintah, khususnya Kementerian Perhubungan agar bisa terus memonitor harga-harga tiket. Terutama, ungkap...