Kata-Kata Harus jadi Instrumen Politisi

29-08-2019 / PIMPINAN

Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon Foto : Geraldi/mr 

 

Seorang politisi harus pandai berargumentasi lewat kata-kata. Aktivitas bericara penting dalam menggelorakan demokratisasi di sebuah negara. Kritik argumentatif muncul dari kata-kata. Di sinilah pentingnya para politisi bisa berbicara dalam segala gayanya. Kata-kata itu jadi alat atau instrumen bagi para politisi.

 

Demikian mengemuka dalam diskusi peluncuran buku Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah berjudul “Gelora Kata-kata, Seputar Demokrasi dan Musuh-Musuhnya”. Hadir sebagai pembicara Anggota F-PKS DPR RI Mahfuz Sidik, akademisi Rocky Gerung, dan moderator Jessica Wowor. Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon ikut hadir. Tak ketinggalan sang penulis Fahri Hamzah hadir mejadi pembicara utama di akhir pertemuan.

 

Mahfuz yang menjadi pembicara pertama mengungkap latar pergaulan Fahri hingga menjadi politisi. Katanya, Fahri besar di luar lingkungan berkultur Jawa. Fahri adalah orang NTB dan istrinya dari Sumatera Barat. Di dunia politik, dia juga punya kawan akrab bernama Anis Mata. Bahkan, sebelumnya di dunia pergerakan ia berkenalan dengan Ihsan Tanjung. Lingkungan orang disekitarnya telah membentuk karakter Fahri yang lantang bicara.

 

“Dari Adi Sasono, Fahri belajar nilai-nilai kerakyatan. Dan yang patut dipuji dari seorang Fahri adalah dia orang yang sangat ikhlas dalam beride,” nilai Mahfuz. Buku yang menjadi tema diskusi ini sebetulnya adalah kumpulan postingan di akun Twitter Wakil Ketua DPR RI Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Korkesra) itu. Semua kritik, pikiran, dan isi hati disampaikan apa adanya setiap kali mempublikasikan Twitter-nya.

 

Rocky Gerung yang tampil menjadi pembicara kedua menyatakan, buku yang dirilis ini sangat tepat waktunya saat kata-kata seringkali disalahpahami penguasa. Menurut Gerung, buku Fahri tersebut berisi pikrian-pikiran pendek yang membongkar kebohongan dan kepalsuan. “Buku atau kata adalah fondasi bernegara kita,” ucapnya.

 

Buku yang merupakan media menuangkan kata-kata dan pikiran idealnya jadi kewajiban para politisi untuk dimiliki dan dibaca. Dan infrastruktur bernegara adalah buku. Bahkan, konstitusi negara kita awalnya merupakan perang kata-kata dalam sebuah perdebatan bagaimana mendirikan negara.

 

“Kata-kata adalah peralatan politisi. Kini, berdemokrasi bisa dilakukan lewat twitter. Untuk itu saluran berdemokrasi ini tidak boleh dibendung dengan memblokir saluran internet,” tutur Rocky. Berdemokrasi lewat twitter diistilah Gerung dengan Twittokarasi. Mereka yang tidak berkata-kata untuk kemajuan demokrasi berarti kekurangan IQ. Dan buku Fahri ini, sebut Rocky, sebagai sumbangsih berdemokrasi. (mh/sf)


  • SHARES
BERITA TERKAIT
Lomba Bulu Tangkis DPR Jalin Keakraban Tanpa Pandang Jabatan
17-09-2019 / PIMPINAN
Pertandingan Bulu Tangkis Piala Ketua DPR RI kembali diselenggarakan dalam rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 DPR RI. Sebelumnya,...
Fadli Zon Minta AIPA Lebih Progresif
17-09-2019 / PIMPINAN
Wakil Ketua DPR RI Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Korpolkam) Fadli Zon menerima kunjungan terakhir Sekretaris Jenderal ASEAN Inter-Parliamentary Assembly...
HSBI Miliki Arti Penting Bagi Perjuangan Indonesia
16-09-2019 / PIMPINAN
Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) merupakan organisasi yang memiliki arti penting bagi bangsa Indonesia. Terlebih, HSBI sudah sejak lama berdiri...
Lomba Burung Berkicau Wujud Jaga Kelestarian Satwa
15-09-2019 / PIMPINAN
Ketua DPR RI Bambang Soesatyo terus membuat gebrakan kegiatan di DPR RI. Setelah sukses membuka pintu DPR RI bagi kalangan...