Pekerja Sosial Harus Mampu Ubah 'Mindset' Penerima Manfaat PKH

08-02-2020 / KOMISI VIII

Anggota Komisi VIII DPR RI Lisda Hendrajoni saat meninjau Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Regional III Yogyakarta di Sleman, D.I.Yogyakarta, Jumat (7/2/2020). Foto : Erman/Man

 

 

Anggota Komisi VIII DPR RI Lisda Hendrajoni menekankan penting bagi para pekerja sosial untuk bisa mengubah mindset (pola pikir) keluarga penerima manfaat (KPM) dari Program Keluarga Harapan (PKH). Menurutnya permasalahan miskin atau sukses itu merupakan permasalahan mental.

 

“Saya pernah membaca buku, disebutkan di situ poor people atau orang miskin adalah mereka yang bermental miskin. Dan orang sukses itu adalah orang-orang yang mentalnya sukses,” ucap Lisda saat meninjau Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Regional III Yogyakarta di Sleman, D.I.Yogyakarta, Jumat (7/2/2020).

 

Ia menambahkan, kedekatan yang terjalin antara para pekerja sosial dengan KPM seharusnya bisa dimanfaatkan untuk mengubah mental masyarakat. “Artinya seorang pendamping harus kita siapkan untuk menjadi orang-orang yang bisa merubah mindset mereka (KPM) dalam waktu secara bertahap. Sehingga apa-apa yang telah diberikan oleh Kementerian Sosial ini tidak mubazir,” jelasnya.

 

Politisi Fraksi Partai Nasdem mencontohkan, kalau mindset tidak berubah, ketika dikasih bantuan berupa ayam, maka ayam tersebut akan dipotong. “Dikasih 40 ayam, 40 hari selesai, atau paling lama 2 bulan. Atau dia jual dengan berbagai macam, ya wallahualam. Kalau kita lihat, masih ada jiwa seperti itu dan itu yang harus kita ubah,” terang Lisda.

 

Berbeda dengan masyarakat yang punya semangat tinggi untuk berjuang dalam hidupnya. Tidak dikasih modal pun, bila memiliki mental sukses, ia pasti akan memikirkan apa yang harus diperbuat, tidak ada kata malu untuk terus berusaha, berkembang untuk mengubah kondisi hidupnya menjadi lebih baik lagi.

 

“Bagi mereka yang bermental sukses, mereka akan terus berkreasi untuk bertahan dan mengubah nasibnya. Misalnya begini begini, cobalah Cabai itu kita tarok, tarok, tarok, kan dia tumbuh. Kalau kita punya 10 pohon cabai saja, mungkin kita tidak beli cabai lagi. Atau kalau tadinya sebulan beli 2 kilo, sekarang cuma beli jadi 1 kilo,” paparnya.

 

Sebenarnya, sambung Lisda, banyak hal yang bisa dilakukan bilamana mental sukses sudah tertanam dalam diri masyarakat penerima manfaat PKH. Ke depan, ia berharap agar Kemensos lebih realistis dengan betul-betul fokus membina dan mengarahkan agar penerima manfaat PKH bisa mandiri. (es)


  • SHARES
BERITA TERKAIT
Wabah Covid-19 Harus Ditangani Secara Kompak
06-04-2020 / KOMISI VIII
Anggota Komisi VIII DPR RI Diah Pitaloka menilai kasus pandemi Corona (Covid-19) di Indonesia merupakan sebuah ujian sulit yang hanya...
Butuh Narasi Positif di Tengah Pandemi Covid-19
06-04-2020 / KOMISI VIII
Anggota Komisi VIII DPR RI Maman Imanul Haq menilai masyarakat membutuhkan pemberitaan dan narasi positif untuk mendinginkan suasana di tengah...
DPR Kebut Bahas RUU Penanggulangan Bencana
03-04-2020 / KOMISI VIII
Anggota Komisi VIII DPR RI Muhammad Husni mengatakan, Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan atas Undang-Undang (UU) Nomor 24 Tahun tentang...
Beberapa Pasal Perppu Nomor 1 Tahun 2020 Dinilai Kontroversial
02-04-2020 / KOMISI VIII
Anggota Komisi VIII DPR RI Bukhori Yusuf mengingatkan agar pemerintah tidak mencuri kesempatan di tengah situasi krisis, menyusul terbitnya Peraturan...