Legislator Pertanyakan Kecepatan Penyebaran Virus Corona

18-02-2020 / KOMISI VII

Anggota Komisi VII DPR RI Adriana Dondokambey dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VII DPR RI dengan LBME yang turut dihadiri oleh para peneliti LBME di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (17/2/2020). Foto : Azka/Man

 

Anggota Komisi VII DPR RI Adriana Dondokambey mempertanyakan kecepatan penyebaran virus Corona. Apakah hasil rekayasa manusia atau senjata biologis. Pasalnya, ada budaya atau kebiasaan masyarakat Sulawesi Utara, khususnya Tomohon yang masih mengonsumsi hewan liar seperti kelelawar yang sempat dikaitkan dengan wabah virus Corona.

 

Hal tersebut ditanyakan langsung oleh Adriana kepada Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME) Amin Soebandrio dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VII DPR RI dengan LBME yang turut dihadiri oleh para peneliti LBME di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (17/2/2020).

 

“Apakah kecepatan penyebaran virus ini merupakan hasil rekayasa manusia atau senjata biologis. Sebab, jika memang berasal dari konsumsi hewan liar sebagaimana yang dinyatakan oleh sebagian ahli, seharusnya sudah sejak lama masyarakat Tomohon terinfeksi virus ini. Karena sejak nenek moyangnya, masyarakat Tomohon memakan hewan-hewan liar seperti kelelawar, biawak dan ular. Tapi hingga kini belum ada masyarakat di Tomohon dan sekitarnya yang terinfeksi virus Corona,” ujar Adriana.  

 

Menjawab hal tersebut, Direktur LBME Amin Soebandrio mengatakatan bahwa memang banyak teori konspirasi yang mempertanyakan hal tersebut. Namun pihaknya belum meneliti secara ilmiah tentang kemungkinan virus Corona merupakan hasil rekayasa manusia atau senjata biologis. Pihaknya pun tidak dalam posisi menjawab hal tersebut.

 

Terkait penyebarannya yang cepat, ia mengatakan masa inkubasi virus tersebut yang begitu cepat, yakni 14 hari. Bahkan informasi terakhir sebanyak 21 hari.  Selain itu, banyak yang tertular tidak sakit, dalam arti mereka masih bisa berpergian ke kota atau daerah lain. Kalau pun ada yang sakit, sebagian itu tidak sakit berat berat, jika berat sebagian ada yang tidak sampai meninggal. Hal itulah yang menyebabkan virus itu begitu cepat penyebarannya.

 

Sementara terkait dengan budaya mengonsumsi hewan-hewan liar, Amin mengakui bahwa kebiasaan tersebut memang sudah berlangsung turun temurun di Sulawesi Utara, khususnya Tomohon. Namun belum ada laporan bahwa virus Corona dari Wuhan tersebut ada di Tomohon. Meski di sana banyak dikunjungi turis China, bahkan ada pasar ekstrim yang menjual hewan-hewan liar juga.

 

“Studi yang dilakukan teman-teman di sana untuk mempelajari kandungan virus di pemburu hewan liar tersebut, pedagang, perantara sampai di konsumen. Didapati hanya dua kasus yang terkena virus, itupun hanya virus yang menyebabkan influenza, bukan virus Corona. Namun kami mengusulkan ke Balitbangkes (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan) ke depan, Sulut dapat menjadi salah satu tempat survei tentang Corona ini,” paparnya. (ayu/es)


  • SHARES
BERITA TERKAIT
Anggota DPR Dorong Penambahan Anggaran untuk LBM Eijkman
06-04-2020 / KOMISI VII
Anggota Komisi VII DPR RI, Mulyanto mendukung penambahan anggaran untuk Lembaga Biologi dan Molekuler (LBM) Eijkman. Sebagaimana diketahui, lembaga tersebut...
Anggota DPR Dukung BPPT jadi Koordinator Pengembangan RDT Kit Covid-19
02-04-2020 / KOMISI VII
Anggota Komisi VII DPR RI, Dyah Roro Esti mendukung kebijakan pemerintah (Kemenristek/BRIN) yang memberikan mandat kepada Badan Pengkajian dan Penerapan...
Legislator Apresiasi Langkah Presiden Gratiskan Listrik
01-04-2020 / KOMISI VII
Anggota Komisi VII DPR RI Dyah Roro Esti mengapresiasi langkah Presiden Joko Widodo membebaskan kewajiban pembayaran tarif listrik bagi masyarakat,...
Anggota DPR Desak PLN Gratiskan Biaya Listrik
31-03-2020 / KOMISI VII
AnggotaKomisi VII DPR RI Rudy Mas’ud mendesak Perusahaan Listrik Negara (PLN) harus membebaskan atau menggratiskan biaya listrik kepada masyarakat selama...