PROFIL ANGGOTA
PROF. Dr. HENDRAWAN SUPRATIKNO
No.Anggota
185
Fraksi
Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
Daerah Pemilihan
JAWA TENGAH X
MEDIA SOSIAL
KALENDER
  • Agenda Acara
BIOGRAFI SINGKAT
PROF. Dr. HENDRAWAN SUPRATIKNO

Profil : 

Prof. Dr. Hendrawan Supratikno (lahir di Cilacap21 April 1960; umur 54 tahun) merupakan politisi berdarah Tionghoa asli Indonesia. Ia merupakan anggota DPR RI dari Jawa Tengah yang bertugas di Komisi VI pada periode 2009-2014 dan bertugas di Komisi XI (Perbankan dan Keuangan) pada periode 2014-sekarang di Fraksi PDI Perjuangan sekaligus menjabat sebagai Ketua bidang Perekonomian DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan periode 2015-2020.

Nama Profesor Hendrawan Supratikno dikenal sebagai politisi Senayan beretnis Tionghoa yang memiliki latar belakang akademik yang kuat. Pemikiran dan sepak terjangnya sangat Indonesia.

Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI ini namanya mulai dikenal publik saat terlibat aktif dalam Panitia Khusus Angket Century akhir 2009 lalu. Performa saat di Pansus Angket Century, Hendrawan menunjukkan kelasnya. Penguasaan isu-isu teknis perbankan menjadi modal Hendrawan.

Pria kelahiran Cilacap, 21 April 1960 ini memang sebelum terjun ke politik praktis merupakan akademisi tulen. Gelar profesor ia raih dari Universitas Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah.

Gelar Master dan Doktor ia raih dari kampus di Eropa yakni di Belgia dan Amsterdam. Dia juga pernah tercatat sebagai Direktur Sekolah Pascasarjana Institut Bisnis Indonesia (IBI) (Tahun 2004). Hendrawan juga tercatat sebagai dosen Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Indonesia (UI).

Memiliki darah Tinghoa dari jalur ayah dan ibunya, namun tak membuat Hendrawan kurang pergaulan. Bahkan, dirinya kini menjadi Tim Budaya Jawa Tengah-Yogyakarta yang didirikan era Gubernur Jawa Tengah Mardiyanto dan Sri Sultan HB X. "Saya relatif memahami budaya Jawa," ujarnya.

Hubungan dirinya dengan budaya yang heterogen sejatinya dilalui sejak kecil. Dia mengaku, istri pertama dari ayahnya merupakan asli Jawa. Interaksi dengan orang di luar etnis Tionghoa cukup intensif.

"Teman dan lingkungan saya cukup heterogen. Bahkan saat kuliah di Universitas Satya Wacana, saya tinggal di asrama yang terdiri banyak suku," papar anggota Komisi Perdagangan dan Perindustrian DPR RI ini.

Begitu juga saat studi di luar negeri, rumah Hendrawan tak jarang dijadikan tempat ibadah salat bagi rekan-rekannya yang beragama Islam. Padahal, kenang Hendrawan, tempat ibadah sudah tersedia.

Interaksi beragam latar belakang inilah yang menjadikan pemahaman Hendrawan tidak sempit. Dia pun mengaku, sedikitnya tiga tokoh yang ia kagumi dan mempengaruhi cara pandangnya yakni KH Abdurrahman WahidKwik Kian Gie, dan Arief Budiman. "Mereka saya kagumi karena karakter dan keberaniannya," ujar ayah satu anak ini.

Pada 2004 menjadi momentum penting bagi Hendrawan. Karena di tahun tersebut ia hijrah dari kota Salatiga ke Jakarta. Persingungan dengan politik praktis ia mulai di 2004. Kedekatan dengan Kwik Kian Gie yang saat itu aktif di PDI Perjuangan membawa Hendrawan terlibat dan aktif di Megawati Center. "Di situlah saya interaksi dengan banyak politisi dan pak Taufik Kiemas yang merupakan mentor dan guru saya," kata Hendrawan.

Pilihan politik di PDI Perjuangan, bagi Hendrawan telah ia pilih sejak memiliki hak pilih di usia 17 tahun. Ia mengklaim sejak memiliki hak pilih, sudah mencoblos PDI hingga PDI Perjuangan pasca Orde Baru. Selain itu, ia dikenal sebagai aktivis Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) yang merupakan onderbouw Parkindo, partai penyusun PDIdan PDIP

Transformasi Hendrawan yang berasal dari etnis Tinghoa tidaklah begitu sulit bagi dirinya. Struktur keluarga, lingkungan, hingga pergaulan yang pluralis membuat ia lupa etnis asalnya. "Saya tidak pernah mengaitkan kinerja dan capaian dengan suku. Bahkan saya lupa etnis saya, karena saya sudah sangat Indonesia," tegas Hendrawan.

Meski demikian, di setiap perayaan Imlek, anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah 10 ini, tradisi Tionghoa masih ia lakukan seperti membagi angpau termasuk kue keranjang. "Angpau pasti, kita berikan kepada keponakan," katanya.

Terkait persoalan kekinian tentang lemahnya solidaritas antarsesama antar anak bangsa, Hendrawan menyebutkan hal tersebut disebabkan ketidakadilan dan pemerataan yang tidak serius dilakukan. "Karena ketidakadilan dan ketimpangan maka mudah disulut dan dieksploitasi," ujar Hendrawan.

Di atas semua itu, Hendrawan masih memiliki sejumput optimisme terhadap masa depan Indoenesia. Langkah ini menurut dia penting agar stamina dalam berkarya untuk Indonesia tidak loyo. "For Better Indonesia is Possible. Ini agar kita tidak loyo," cetusnya.

 

  • 137
    SHARES