Anggota DPR RI

PROFIL ANGGOTA
H. AGUS SULISTIYONO, S.E, MT
No.Anggota
61
Fraksi
Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa
Daerah Pemilihan
D.I. YOGYAKARTA
MEDIA SOSIAL
KALENDER
  • Agenda Acara

Harga Gas Di Sumut Termahal Di Dunia

22 Maret 2016 / Kunjungan Kerja

[MEDAN] Pelaksana tugas Gubernur Sumut, Tengku Erry Nuradi mengharapkan, pemerintah pusat menurunkan harga gas industri di bawah dibawah US$10 per juta British Thermal Unit (MMBTU) untuk di Sumut.

 

"Harga gas di Sumut termahal di dunia. Kondisi ini berdampak pada daya saing," ujar Erry Nuradi di hadapan rombongan Komisi VII DPR RI di Kantor Gubsu Jl Diponegoro Medan, Senin (21/3).

 

Erry mengungkapkan, tingginya harga gas industri membuat rendahnya daya saing untuk daerah itu. Padahal, gas merupakan urat nadi pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut.

 

"Percuma saja pemerintah mendorong investasi seperti membangun Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei dan Kawasan Strategis Nasoional  seperti Danau Toba, dan KSN lainnya apabila persolan energi gas dan listrik masih menjadi kendala," katanya.

 

Dia mengharapkan, ada jalan keluar yang dilakukan pemerintah pusat dalam menghadapi persoalan tingginya harga gas di Sumut. Kondisi ini sudah berlangsung sangat lama, dan berdampak pada masyarakat ekonomi Asean.

 

Ketua Komisi VII DPR, Gus Irawan menanggapi keluhan Plt Gubernur Sumut itu menyampaikan, persoalan yang sedang dihadapi menyusul tingginya harga gas di Sumut, akan menjadi pembahasan di tingkat pusat nantinya.

 

“Dulu pernah dialokasikan dana Rp 3 Triliun untuk membangun kilang gas di Sumut namun dipindahkan ke Lampung. Kilang yang dibangun itu kini tidak berfungsi. Banyak industri yang hancur akibat tingginya harga gas. Padahal, Sumut kan bagian NKRi juga. Namun, kenapa harga gas sangat justru termahal di dunia," katanya.

 

Selain Gus Irawan dari Partai Nasdem, anggota DPR yang turut hadir adalah  Donny Maryadi Oekon (PDIP), Yulian Gunhar (PDIP), Adian Yunus Yusak Napitupulu (PDIP), Eni Maulani Saragih (Golkar), Gito Ganinduto (Golkar), Satya Widya Yudha (Golkar), Ramson Siagian (Gerindra).

 

Bambang Haryadi (Gerindra), Adji Farida Padmo Ardans (Demokrat), Andriyanto Johan Syah (PAN), H Agus Sulistyono (PKB) dan Isqan Qolba Lubis (PKB). Turut hadir dalam pertemuan itu mewakili DPRD Sumut, Dirjen Migas, Dirjen Ketenagalistrikan, Dirjen Minerba, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Kementerian Ristek dan Dikti, PT Pertamina, PT PLN, PT PGN, PT Inalum, BPH Migas dan SKK Migaa serta intansi terkait.

 

Eni Maullani Saragih dari Fraksi Golkar mengungkapkan, harga gas di Sumut pernah berada di puncak tertinggi yang mencapai US$ 14 MMBTU. Saat ini, harga itu sudah turun berkisar US$ 12 MMBTU. Harga tersebut masih tergolong sangat mahal.

 

“Harga gas di Jatim US$ 7,9 MMBTU. Semua ini terjadi karena PGN melakukan monopoli. Seharusnya, fasilitas strategis yang dikuasai PGN bisa diakses secara terbuka. Sebab, PGN bukan BUMN murni, dan 40 persen sahamnya dikuasai oleh swasta," ungkapnya.

 

Cahyadi mewakili PGN menyampaikan, kebutuhan gas industri, komersial dan rumah tangga di daerah tersebut, mencapai 20 MMscfd setiap harinya. Sementara itu, pasokan hanya sebesar 6 MMscfd, sehingga defisit 14 MMscfd. Harga gas US$ 12,22 MMBTU. Untuk menurunkan harga itu memerlukan kebijakan pemerintah.

 

Sementara itu, Direktur Gas, Energi Baru dan Terbarukan Pertamina, Yeni Andayani menyebutkan, sumber gas di Sumut bersumber dari Pangkalan Susu sebesar 6 MMscfd, Sumur Benggala 2 MMscfd.

 

"Sebagian digunakan untuk produksi di Pertamina. Untuk memenuhi kebutuhan maka dibeli dan diregasifikasi di Aceh dan kemudian dibawa ke Belawan," sebutnya. [155/L-8]

 

Sumber: beritasatu.com

TOTAL KOMENTAR (0)