Anggota DPR RI

PROFIL ANGGOTA
H. AGUS SULISTIYONO, S.E, MT
No.Anggota
61
Fraksi
Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa
Daerah Pemilihan
D.I. YOGYAKARTA
MEDIA SOSIAL
KALENDER
  • Agenda Acara

"Kelistrikan Nasional & Gelap Gulita di Indonesia Timur"

30 Mei 2016 / Politik

Kebutuhan tenaga listrik sudah menjadi bagian dari hajat hidup orang banyak, oleh karena itu pembangunan infrastruktur dan tata kelola ketenaga listrikan nasional harus menganut asas manfaat, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, optimalisasi ekonomi dalam pemanfaatan sumber daya energi, mengandalkan pada kemampuan sendiri, kaidah usaha yang sehat, keamanan dan keselamatan, kelestarian fungsi lingkungan, dan otonomi daerah.

 

Dalam neraca gas bumi yang disusun Kementerian ESDM, Indonesia butuh impor gas sebanyak 1.777 bbtud pada 2019, 2.263 bbtud pada 2020, 2.226 bbtud di 2021, 1.902 bbtud tahun 2022, 1.920 bbtud di 2023, 2.374 bbtud pada tahun 2024, dan 2.304 bbtud di 2025.

 

Melihat data tersebut, Pemerintah telah berupaya untuk memaksimalkan penggunaan gas sebagai bahan bakar pembangkit listrik, dalam program pembangunan pembangkit listrik 35.000 megawatt (MW). Gas harus bisa jadi penyelamat listrik untuk Indonesia Timur.

 

Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PKB H. Agus Sulistiyono, SE, MT mengatakan bahwa porsi pembangkit listrik berbahan bakar gas dalam program 35.000 MW yang mencapai 25%. 

 

"Saya mengapresiasi langkah pemerintah terkait Program 35.000 MW dengan total investasi US$ 73 miliar. Sebab dengan langkah tersebut maka porsi gas di dalam program 35000 MW signifikan.

 

Prinsip dasar dalam operasi sistem tenaga listrik adalah bahwa besaran produksi tenaga listrik setiap detik ditentukan oleh besaran permintaan tenaga listrik pada detik itu juga (real time) agar besaran tegangan dan frekuensi dapat dijaga konstan. 

 

"Untuk itu perlu dijaga keseimbangan permintaan dan penyediaan tenaga listrik. Selain itu, semakin besar faktor beban maka pemanfaatan pembangkit yang dikhususkan untuk beban puncak dapat dikurangi sehingga pada akhirnya biaya pokok penyediaan tenaga listrik menjadi menurun, ujar Agus Sulistiyono".

 

Untuk optimalisasi penyediaan dan pemanfaatan tenaga listrik baik dari segi teknis maupun ekonomis maka diperlukan manajemen permintaan (Demand Side Management - DSM) dan penyediaan (Supply Side Management - SSM) tenaga listrik. 

 

Menurut H. Agus Sulistiyono, SE, MT, Kebutuhan tenaga listrik di sebagian besar wilayah/daerah di Indonesia belum dapat dipenuhi baik secara kualitas maupun kuantitas sesuai yang dibutuhkan konsumen. Karenanya,  saya berharap agar wilayah Indonesia Timur yang masih 'gelap' alias belum mendapatkan listrik dapat terpenuhi. Langkah ini merupakan langkah strategis dalam rangka mewujudkan ratio elektrifikasi di wilayah timur indonesia. "Titik yang menyala masih di (Indonesia) Barat, di Timur gelap. Padahal gasnya dari Timur," pungkasnya.

 

Meski kaya gas, namun Indonesia banyak mengekspor komoditas energi ini. Bahkan di 2019, Indonesia harus impor gas karena kebutuhan yang semakin tinggi. Fluktuasi ini harus segera diatasi sebagai upaya perbaikan (tata kelola) energi nasional khususnya masalah dibidang ketenagalistrikan nasional. <A61>

TOTAL KOMENTAR (0)