Anggota DPR RI

PROFIL ANGGOTA
H. AGUS SULISTIYONO, S.E, MT
No.Anggota
61
Fraksi
Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa
Daerah Pemilihan
D.I. YOGYAKARTA
MEDIA SOSIAL
KALENDER
  • Agenda Acara

PKB Jogja Gelar Haul Gus Dur, Agus: Waspadai Etnoprimordialisme!

08 Januari 2017 / Dapil

Yogyakarta, radarbangsa.com – DPW Partai Kebangkitan Bangsa DI Yogyakarta menggelar peringatan Maulidir Rosul, Sabtu, 7 Januari 2016. Kegiatan tersebut dirangkai dengan Haul ke tujuh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua DPW PKB DIY, Agus Sulistiono, Sekretaris DPW PKB DIY, Umarudin Masdar, tokoh masyarakat dan simpatisan PKB setempat.

 

Dalam kegiatan tersebut, Ketua DPW PKB yang lebih akrab dipanggil Pak Agus mengingatkan bahaya etnoprimordialisme yang saat ini sedang menggerogoti Indonesia.

 

“Akhir-akhir ini etnoprimordialisme bangkit lagi. Dan nyaris tidak ada tokoh yang bisa meredamnya. Di situ kami merasa rindu Gus Dur,” ujar pak Agus di lokasi acara.

 

Menurutnya, Gus Dur menolak etnoprimordialisme sembari terus mencontohkan bahwa manusia harus diperlakukan sama, kendati berbeda etnis, suku, bangsa, bahkan agama. Pak Agus menuturkan

 

Gus Dur mengagas pribumisasi Islam tak lain adalah untuk menolak etnoprimordialisme. “Islam bukan agama yang diciptakan seperti tugu mati, semua harus Arab, baju harus seperti Arab, tapi Islam adalah agama dinamis yang merangkul semuanya,” terangnya.

 

Etnoprimordialisme, lanjutnya, akan memisahkan keragaman bangsa daripada menyatukan yang berakibat pada struktur bangsa yang terkotak-kotak.

 

“Ini yang dilawan Gus Dur. Kita tidak boleh mempersoalkan etnisitas yang begitu banyak. Gus Dur menolak kapling semacam ini,” tandasnya.

 

Sekedar diketahui, etnoprimordialisme adalah sebuah pandangan atau paham yang berlebihan dan memegang teguh hal-hal yang dibawa sejak kecil, baik mengenai tradisi, adat-istiadat, kepercayaan, maupun segala sesuatu yang ada di dalam lingkungan pertamanya.

 

Etnoprimordialisme dinilai sangat berbahaya bagi persatuan dan kesatuan bangsa lantaran bisa merusak persatuan dan kesatuan sebuah bangsa yang terdiri dari beragam etnis, suku, budaya, dan agama. Penganut paham ini cenderung mengunggulkan etnis tertentu dan memarjinalkan kelompok lain. (AZ)

 

Sumber: radarbangsa.com

TOTAL KOMENTAR (0)