Industri Rokok Mestinya Tak Dilarang Sponsori Olahraga

05-11-2019 / KOMISI X

Anggota Komisi X DPR RI Adrianus Asia Sidot. Foto : Jaka/mr

 

Bila rokok merusak kesehatan, itu betul. Tapi komitmennya memajukan dunia olahraga nasional harus dihargai. Saat ini sulit mencari sponsorship event olahraga atau mencari sponsor utama untuk klub olahraga di Tanah Air. Mestinya persolan kesehatan pada rokok dan komitmen industrinya mensponsori olahraga harus dibedakan.

 

Demikian disampaikan Anggota Komisi X DPR RI Adrianus Asia Sidot saat ditemui Parlementaria di Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta, Selasa (5/11/2019). “Rokok memang merusak kesehatan. Lalu apakah tidak layak menjadi sponsor olahraga. Di Indonesia justru perusahaan-perusahaan rokoklah yang menjadi sponsor utama. Mana ada perusahaan kayu dan tambang mau jadi sponsor utama.”

 

Politisi Partai Golkar ini, memberi contoh konkret bagaimana PT. Djarum aktif mensponsori dunia bulutangkis nasional dengan menggelar ajang pencarian bakat para pebulutangkis belia. “Kalau bukan Djarum yang membina bulutangkis kita, enggak ada juara Olimpiade dan All England dari Indonesia. Pisahkanlah antara rokok sebagai barang yang merusak kesehatan dengan komitmen mereka untuk membangun olahraga nasional,” tegasnya.

 

Membangun olahraga nasional, sambung mantan Bupati Landak, Kalimantan Barat ini, sama juga dengan membangun SDM Indonesia yang sehat, kuat, dan cerdas. Ironisnya, justru perusahaan-perusahaan rokoklah yang peduli mensponsori olahraga nasional. Perlu pembicaraan kembali soal boleh tidaknya perusahaan rokok mensponsori olahraga nasional, mengingat alokasi anggaran pemerintah pusat dan daerah sangat minim untuk pembinaan olahraga.

 

“Kalau kita tunduk pada seruan LSM-LSM internasional mengenai larangan peurusahaan rokok jadi sponsorship karena alasan kesehatan, sebetulnya bisa kita bicarakan lagi. Olahraga nasional hidup dari situ dan kalau dihentikan imbasnya sampai ke daerah,” ungkapnya. Adrianus sebagai Ketua Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI) Kalbar dan Ketua Umum Komite Tinju Indonesia (KTI), mengaku kesulitan mencari sponsorship ke industri non rokok.

 

Ia pernah mencari sponsor ke perusahaan perbankan, kontraktor, perkebunan, dan pertambangan, ternyata sulit. Kalau pun ikut membantu, itu hanya sekadarnya. Perusahaan-perusahan tersebut merasa belum bertanggung jawab atas pembinaan olahraga. “Padahal, kalau mau membangun SDM yang sehat, kuat, dan cerdas, bidang olahraga tidak bisa kita lupakan. Olahraga memegang peran penting, sama pentingnya dengan infrastruktur, pangan, dan sektor lain. Olahraga harus mendapat perhatian yang seimbang dari pemerintah pusat sampai daerah,” tutup Adrianus. (mh/sf)


  • SHARES
BERITA TERKAIT
Komisi X Desak Kemendikbud Selesaikan Peta Pendidikan 2020-2035
02-07-2020 / KOMISI X
Komisi X DPR RI mendesak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI agar menyelesaikan dan menerbitkan peta jalan Pendidikan Indonesia 2020-2035...
Pemprov DKI Jakarta Lakukan Kesalahan Dalam PPDB
30-06-2020 / KOMISI X
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Dede Yusuf menilai Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan kesalahan dalam kebijakan sektor pendidikan, terutama...
PPDB DKI Jakarta Dipersoalkan
30-06-2020 / KOMISI X
Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di Provinsi DKI Jakarta dipersoalkan oleh para wali murid dan relawan pendidikan, termasuk oleh Komisi...
Kemendikbud Harus Awasi Penyelenggaraan PPDB di Daerah
30-06-2020 / KOMISI X
Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) sering kali menimbulkan masalah tersendiri setiap tahunnya, tak terkecuali pada tahun 2020 ini. Masalah PPDB...