PRESIDEN PRIHATINKAN BERKEMBANGNYA DEMOKRASI BIAYA TINGGI
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memprihatinkan dan mencemaskan berkembangnya demokrasi berbiaya tinggi, khususnya dalam pemilihan umum kepala daerah.
Keprihatinan ini disampaikan pada saat menyampaikan pidato kenegaraan di depan sidang bersama DPR RI dan DPD RI dalam rangka HUT ke-65 Proklamasi Kemerdekaan RI, Senin (16/8) di gedung Nusantara DPR RI.
Dalam Pilkada di berbagai daerah, sering mendengar seorang kandidat dengan timnya harus mengeluarkan uang yang begitu banyak. Kecenderungan ini berdampak negatif pada moral, etika dan budaya politik bangsa.
“Sangat dimengerti, diperlukan biaya untuk kegiatan politik seperti ini,” katanya. Namun, di samping sumbernya harus legal, besarnyapun tidak melampaui batas kepatutannya.
Presiden menambahkan, di sejumlah wilayah tercatat pemilihan umum kepala daerah diwarnai praktik-praktik tidak terpuji. Mulai dari praktik politik uang hingga terjadinya aksi-aksi anarkis. Padahal kita semua mengetahui bahaya dari praktik-praktik buruk ini terhadap integritas demokrasi. Karena meluasnya politik uang hanya akan membawa kesengsaraan bagi rakyat.
Pada kesempatan tersebut, Presiden mengajak seluruh bangsa Indonesia untuk meningkatkan kualitas demokrasi, pemerintahan dan pelayanan publik di daerah. Di pihak lain, katanya, harus memastikan bahwa semua bangunan dasar dari sistem politik yang diamanahkan oleh konstitusi (UUD 1945) tetap terjaga eksistensinya. Seraya mendorong penguatan desentralisasi dan otonomi daerah, juga mesti memperkokoh sistem presidensial, eksistensi NKRI dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Tentunya, kata Presiden, perkembangan demokrasi yang sedemikian majunya jangan sampai tercoreng dengan tindakan yang tidak terpuji. Karena Indonesia dikenal sebagai negara demokrasi terbesar ke tiga setelah India dan Amerika.
Dalam Pidato Kenegaraan tersebut, sebanyak 1.874 para teladan ikut menyaksikan jalannya acara tersebut. Mereka yang berprestasi itu terdiri dari peraih medali emas Olimpiade Internasional, guru teladan, dosen berprestasi, pemenang lomba karya tulis ilmiah, penyuluh pertanian, keluarga sakinah, transmigran teladan, dokter dan bidan teladan, lurah dan camat teladan, pekerja sosial masyarakat, karang taruna berprestasi, penyuluh kehutanan dan beberapa teladan lainnya. (tt)