Komisi VI Minta Kemenkop Sempurnakan ‘Big Data’ UMKM
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Martin Manurung ketika memimpin Raker antara Komisi VI DPR RI Menkop-UKM Teten Masduki di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Kamis (21/1/2021). Foto: Arief/nvl
Komisi VI DPR RI meminta Kementerian Koperasi dan UKM untuk segera menyempurnakan basis data besar (big data) terkait UMKM yang selama ini masih tersebar di 18 kementerian. Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Martin Manurung mengatakan, Kemenkop-UKM harus memanfaatkan momentum penyaluran program Banpres Produktif Usaha Mikro (BPUM) untuk mengkonsolidasikan dan menyempurnakan big data UMKM.
“Jangan lupa juga agar kita terus menerus melakukan peningkatan data kita karena itu akan bermanfaat ke depannya. Nah karena itu mungkin perlu diterangkan kepada kita bagaimana langkah-langkah yang dilakukan kementerian untuk menghimpun big data ini,” ujarnya ketika memimpin Raker antara Komisi VI DPR RI Menkop-UKM Teten Masduki di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Kamis (21/1/2021).
Menurut Martin, Komisi VI DPR RI siap mendukung secara politik dan kebijakan mengenai langkah dan perencanaan yang disiapkan Kemenkop-UKM. Untuk itu ia meminta big data UMKM ini harus menjadi prioritas utama untuk segera diselesaikan karena menyangkut hajat hidup para pelaku usaha kecil.
“Saya ingatkan kembali ini mumpung Pak Menteri dan jajaran sedang mendorong BPUM ini, kalau perlu anggarannya seperti apa dan apa yang bisa kami bantu. Supaya momentum penambahan 12 juta ditambah 12 juta jadi 24 juta pelaku usaha mikro yang sekarang dilayani oleh Kemenkop bisa tidak lewat momentumnya untuk kita mendapatkan data,” imbuh politisi Fraksi Partai Nasdem ini.
Senada, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Gde Sumarjaya Linggih menjelaskan big data UMKM akan membuat penanganan negara terhadap para pelaku usaha kecil dan menengah menjadi terfokus di dalam Kemenkop-UKM. Sebab ia sangat mengharapkan terwujudnya pelaksanaan pemberdayaan terhadap UMKM yang tepat sasaran, tepat arah dan tepat anggaran.
“Persoalan UMKM kita itu adanya persoalan data. Ditambah, saat ini pemberdayaan terhadap UKM itu ada 18 kementerian. Harus ada tekanan publik, sehingga tiap kementerian lain bisa melepas ego sektoralnya. Jadi, melalui itu kita bisa menyatukan pemberdayaan UMKM untuk ditentukan sektor mana saja yang harus lebih banyak didukung,” imbuh politisi Partai Golkar tersebut.
Menjawab aspirasi yang disampaikan, Menkop-UKM Teten Masduki mengatakan dalam waktu dekat pihaknya sudah menyiapkan kajian untuk pengadaan infrastruktur. Ia menambahkan untuk penyiapan infrastruktur tersebut Kemenkop-UKM telah menganggarkan anggaran sebesar Rp16 miliar di tahun 2021 ini.
“Jadi nanti kalau infrastrukturnya sudah bagus, saya kira data tunggal itu nanti akan punya lebih jelas dengan data yang sangat jelas. Kita dalam perencanaan program pengembangan umkm termasuk evaluasi akan menjadi lebih mudah. Sehingga seluruh program ini akan lebih baik. Kita nanti akan lebih konkretlah,” jelas Teten. (er/sf)