Elva Hartati Minta Pemerintah Tidak Terburu-buru Ubah Status Pandemi Jadi Endemi
Anggota Komisi IX DPR RI Elva Hartati. Foto: Dok/Man
Anggota Komisi IX DPR RI Elva Hartati mengungkapkan sebaiknya pemerintah tidak terburu-buru mengubah status pandemi menjadi endemi. Sehingga pemerintah mengambil kebijakan memperbolehkan pelaku perjalanan domestik tanpa terlebih dahulu melakukan tes PCR maupun antigen. Kini, masyarakat yang telah menjalani vaksinasi lengkap atau vaksin dua kali, tidak perlu menunjukkan bukti tes antigen ataupun PCR saat melakukan perjalanan di rute domestik.
“Dengan kebijakan tersebut, maka penumpang pesawat, kapal laut, dan transportasi darat dengan tujuan domestik tidak perlu melampirkan hasil tes Covid-19. Akan tetapi, menurut saya pemerintah sebaiknya tidak terburu-buru mengubah status pandemi menjadi endemi. Karena salah satu indikator endemi adalah jika angka reproduksi Covid-19 di bawah 1. Namun nyatanya kasus Covid-19 Indonesia masih tinggi dan terus bertambah,” papar Elva melalui pesan singkatnya kepada Parlementaria, Kamis (10/3/2022).
Selain itu, sejatinya perubahan status pandemi menjadi endemi ini hanya bisa dilakukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO). Selama WHO menyatakan Covid-19 masih menjadi pandemi, maka situasi yang sama seharusnya berlaku di Indonesia. Termasuk masih perlunya pelaku perjalanan melakukan swab/antigen test.
“Tingkat vaksinasi booster saja saat ini masih sangat rendah. Saya menilai karena masyarakat masih memilih-milih jenis vaksin booster yang akan diterima. Padahal semua jenis vaksin booster yang diberikan aman dan sudah melalui uji klinis. Sehingga seharusnya masyarakat tidak perlu khawatir terhadap efek samping vaksin,” pungkas politisi PDI-Perjuangan ini.
Tidak hanya itu, Elva menilai rendahnya minat dan kesadaran akan pentingnya vaksin booster itu juga karena adanya persyaratan jarak penyuntikan antara vaksin kedua dengan vaksin ketiga atau booster minimal enam bulan. Sementara tidak sedikit masyarakat yang baru mendapatkan vaksin kedua, bahkan pertama. Ini yang menurutnya menjadi salah satu penyebab masih rendahnya pemberian vaksin booster saat ini. (ayu/sf)