DPR Minta Kerjasama Ekonomi dengan China Harus Seimbang
DPR RI terus menyuarakan agar hubungan kerjasama ekonomi perdagangan Indonesia – RRC pasca ditetapkannya perdagangan bebas AFTA – China tidak hanya menguntungkan salah satu pihak. Diplomasi parlemen diharapkan dapat mendukung komunikasi antara pemerintah kedua negara dalam menemukan solusi terbaik.
“Waktu ada perdaganan bebas AFTA dengan China, kita-kan seolah banyak mengalami kerugian. Dalam pertemuan di China beberapa waktu lalu kita menyampaikan hal ini kepada Perdana Menteri dan Ketua Parlemen China, bagaimana hubungan ini bisa saling menguntungkan. Waktu itu mereka menanyakan apa yang bisa membuat perdagangan itu bisa lebih baik,” jelas Ketua DPR RI Marzuki Alie usai menerima kunjungan kehormatan Ketua Delegasi Partai Komunis China (PKC), Li Chang Chun di Hotel Mulia, Jakarta, Kamis (26/4/12).
Ia menyambut baik beberapa langkah yang telah dilakukan pemerintah China untuk meningkatkan volume ekspor Indonesia ke China. Langkah itu diiringi pula dengan meningkatkan investasi pemerintah dan perusahaan dari Negeri Tirai Bambu ini serta komitmen untuk memberikan lebih banyak bea siswa bagi mahasiswa Indonesia.
“Artinya diplomasi parlemen memperkuat, dan melakukan terobosan kalau ada hal-hal yang dirasakan kurang adil atau timpang atau tidak menguntungkan bagi rakyat,” imbuh Marzuki yang dalam pertemuan itu didampingi anggota Group Kerjasama Bilateral Indonesia-China DPR RI diantaranya Albert Yaputra dan Satya W. Yudha.
Sementara itu dalam sambutannya Li Chang Chun yang juga anggota tetap Politbiro Komite Sentral –PKC jabatan setingkat wakil presiden, menyatakan senang bisa hadir di Indonesia yang disebutnya sebagai negara sahabat sejak ribuan tahun yang lalu.
“Yang paling penting kedua negara makin lama makin akrab dan kepercayaan dibidang politik juga makin kuat. Kerjasama dibidang ekonomi dan perdagangan berkembang dengan pesat. Tahun lalu volume perdagangan bilateral mencapai lebih dari US$60 milyar, itu prestasi yang amat baik,” papar Chun yang didampingi anggota parlemen China.
Ia menambahkan Indonesia saat ini merupakan mitra dagang keempat terbesar di kawasan Asean, sebaliknya China merupakan mitra dagang terbesar kedua bagi Indonesia. Kedua negara termasuk parlemen saat ini sedang membentuk tim kerja khusus untuk mendorong perkembangan kerjasama kedua pihak.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Pusat Statistik pada rentang waktu Januari-Februari 2012, tercatat neraca perdagangan nonmigas Indonesia dengan China mencapai US$1,47 miliar, atau jauh melebar dibandingkan dengan Januari-Februari 2011 sebesar US$982 juta. Sedangkan ekspor nonmigas Indonesia ke China sebesar US$2,9 miliar sementara itu impor dari China mencapai hampir dua kali lipat yakni US$4,4 miliar. (iky) foto:ig/parle