Penanganan Konflik Papua Dinilai Masih Parsial
Anggota Komisi I DPR RI Tantowi Yahya menilai koordinasi sejumlah institusi dalam penanganan konflik Papua masih lemah. Kesimpulan ini diperolehnya setelah melangsungkan pertemuan dengan pihak terkait diantaranya TNI, BIN dan Polri.
“Jadi, dalam menyelesaikan masalah di Papua, masih menggunakan desain masing-masing institusi, masih bersifat parsial. Kita harus menyelesaikan semua masalah dengan satu perintah, istilahnya kita harus menggunakan lagu yang sama. Kita himbau jangan ada lagi desain sendiri-sendiri,” jelas Tantowi ketika ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (26/2).
Politisi dari Golkar ini menyebut kasus ini sebenarnya sudah dibahas berulang-ulang dalam rapat Komisi. Baginya suasana konflik di Papua sudah berbeda, tidak lagi sekedar masalah ketidakadilan dan ketidakpuasan dalam konteks kesejahteraan. Dibutuhkan paradigma baru dalam menyelesaikan konflik ini, karena suasana sudah berbeda.
“Yang jelas kita tidak bisa menggunakan cara yang sama seperti dulu. Paradigma selama ini-kan berkesan militer atau represif, sehingga menimbulkan konflik. Sudah terbukti, pendekatan secara represif itu malah menciptakan konflik baru,” nilai Tantowi.
Lebih jauh ia menekankan Komisi I yang telah membentuk Panja Papua yang mendukung keinginan masyarakat Papua berdialog. Dialog bisa dilakukan dengan banyak cara, baik terbuka maupun tertutup, tergantung dengan kesepakatan. Namun, sampai saat ini warga Papua belum sepaham dengan dialog-dialog yang sudah ditawarkan oleh Komisi I. Untuk mendapatkan desain penyelesaian konflik yang sama, kedepan insitusi pemangku kepentingan yaitu TNI, Polri dan BIN bersama DPR, dalam hal ini Komisi I, perlu duduk bersama membahasnya.
“Kita sama sekali tidak mengharapkan Papua pisah dari Indonesia, namun kita lihat teman-teman di sana ada yang menghendaki hal itu, sehingga harus kita pertemukan. Hal yang paling mungkin adalah berdialog, tidak ada cara lain. Dengan mediatornya adalah Panja Papua, diharapkan bisa mempertemukan para stakeholder di sana dan pemangku kepentingan di pusat,” tutup Tantowi. (sf/iky)/foto:iwan armanias/parle.